Luhut Ungkap Tiga Keuntungan Perjanjian Dagang RI-AS, Akses Tarif 0 Persen untuk 1.819 Produk
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 15 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan tiga keuntungan perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk tarif 0 persen untuk 1.819 produk ekspor.
JAMBISNIS.COM – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap tiga keuntungan utama bagi Indonesia setelah penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Menurut Luhut, perjanjian tersebut merupakan langkah strategis untuk menjaga kepentingan nasional sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tengah ketidakpastian perdagangan global.
“Perjanjian ini memastikan posisi Indonesia tetap kuat dan kredibel di tengah ketidakpastian perdagangan global. Ini adalah langkah strategis untuk melindungi kepentingan nasional sekaligus memperkuat daya saing ekonomi kita,” ujar Luhut dalam keterangan resmi, Senin (23/2).
Akses Tarif 0 Persen untuk Ribuan Produk
Keuntungan pertama adalah akses tarif 0 persen untuk 1.819 jenis produk ekspor unggulan Indonesia ke pasar AS. Produk tersebut mencakup minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, produk elektronik, hingga mineral penting.
Nilai ekspor dari produk-produk tersebut mencapai sekitar 6,3 miliar dollar AS atau sekitar 21,2 persen dari total ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam.
Selain itu, AS juga berkomitmen memberikan tarif 0 persen dalam jumlah tertentu untuk produk tekstil dan apparel Indonesia. Kebijakan ini dinilai penting bagi sektor padat karya yang menyerap lebih dari 4 juta tenaga kerja.
Luhut menilai, fasilitas tarif tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih unggul dibandingkan sejumlah negara ASEAN dan kompetitor lainnya.
Kepastian Pasokan Barang Strategis
Keuntungan kedua adalah kepastian pasokan barang yang tidak dapat diproduksi secara optimal di dalam negeri. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen mengimpor sejumlah barang dari AS.
Komitmen itu meliputi pembelian energi senilai 15 miliar dollar AS, pemesanan pesawat dari Boeing sebesar 13,5 miliar dollar AS, impor komoditas pertanian senilai 4,5 miliar dollar AS, serta 11 nota kesepahaman bisnis dengan total nilai 38,4 miliar dollar AS di sektor pertambangan, energi, teknologi, dan manufaktur.
Luhut menegaskan, sebagian besar barang impor tersebut memang dibutuhkan dan tidak diproduksi cukup di dalam negeri, seperti kedelai, gandum, dan bahan baku industri.
Di sisi lain, mayoritas produk impor dari AS sebelumnya juga telah dikenakan tarif rendah, bahkan sebagian sudah 0 persen, sehingga penghapusan tarif menjadi 0 persen untuk 99 persen impor dinilai tidak berdampak besar terhadap industri nasional.
Perkuat Posisi Strategis Indonesia
Keuntungan ketiga adalah penguatan posisi Indonesia sebagai mitra dagang strategis AS. Luhut menilai kesepakatan ini memberikan sinyal bahwa Indonesia memiliki komitmen kuat sebagai mitra perdagangan yang kredibel.
Ia juga menyinggung dinamika kebijakan tarif di AS, termasuk kebijakan yang pernah diterapkan Presiden Donald Trump. Dengan adanya perjanjian ART, Indonesia dinilai berada pada posisi yang lebih kuat apabila terjadi perubahan kebijakan tarif di masa mendatang.
Menurut Luhut, komitmen konkret yang telah disepakati membuat posisi Indonesia lebih siap menghadapi kemungkinan penyelidikan dagang lanjutan dan kebijakan tarif baru dari AS.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar