Kondisi Lapangan dan Alotnya Negosiasi, Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz
- account_circle Deddy Rachmawan
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar

SELAT HORMUZ - Dua kapala Pertamina milik Indonesia masih tertahan di Selat Hormuz, buntut perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
JAMBISNIS.COM – Pertamina Pride dan Gamsunoro, dua kapal milik Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz sejak perang berkecamuk. Untuk diketahui dua kapal Pertamina tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah.
Namun, menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono berdasarkan info dari Kementerian ESDM jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan energi nasional.
“Tanpa bermaksud mengecilkan permasalahan ini. Tapi saya ingin menempatkan ini dalam satu persepsi yang proporsional. Yang perlu kita sama-sama ingat bahwa saat ini, satu, posisi energi kita relatif aman sesuai apa yang disampaikan oleh Kementerian ESDM,” kata dia seperti dilansir kompas.com.
Menurutnya terkait nasib dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang hingga kini belum dapat melintasi Selat Hormuz bahwa proses diplomasi terus dilakukan melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.
“Tentu saja Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan,” kata Sugiono di Kantor KSP, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan, salah satu kendala utama yang dihadapi Indonesia adalah situasi internal di Iran yang turut memengaruhi implementasi kebijakan di lapangan. “Permasalahnya jadi semakin kompleks dengan situasi internal di Iran sendiri, karena kadang-kadang apa yang menjadi kebijakan dari atas tidak serta merta bisa diimplementasi di lapangan. Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz,” ujar Sugiono.
“Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz. Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan,” tutur dia. Selain itu, muncul pula wacana terkait pungutan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Namun, usulan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah negara. “Jadi, saya mewakili Bapak Presiden hadir secara online itu daring di rapat tersebut. Yang intinya, pertama bahwa negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau tol bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz,” jelasnya.
Baca berita bisnis Jambi di Jambisnis.com.
- Penulis: Deddy Rachmawan



Saat ini belum ada komentar