Belum Bangkit! Rupiah Makin Jauh dari Rp18.000
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Kurs rupiah dan dolar AS hari ini.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Tekanan terhadap nilai tukar (kurs) rupiah belum juga mereda. Pada pembukaan perdagangan Jumat (5/6/2026) pagi, rupiah kembali terpeleset dan masih bertahan di zona merah.
Berdasarkan data yang diperoleh Jambisnis.com dari Antara, mata uang Indonesia dibuka melemah 17 poin atau tergerus 0,09 persen menembus level Rp18.066 per dolar AS. Penutupan sebelumnya, rupiah di posisi Rp18.049 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS terlihat menguat 0,01% ke level 99.419.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan depresiasi nilai tukar akan berlanjut hingga perdagangan hari ini.
Saat ini, sentimen yang menyertai rupiah di pasar keuangan datang dari perkembangan konflik geopolitik global. Ibrahim bilang, investor tetap berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.
Terbaru, Washington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah.
“Pasukan Israel memperluas operasi militer di Lebanon selatan, menargetkan daerah yang dikuasai Hizbullah dalam beberapa hari terakhir,” ujarnya.
Selain konflik, perhatian pasar kini juga beralih ke data ekonomi AS, khususnya laporan penggajian non-pertanian yang dipantau ketat pada hari Jumat.
Pada hari Rabu, data dari perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan bahwa perusahaan swasta AS menambah 122.000 pekerjaan pada bulan Mei, melebihi ekspektasi ekonom dan meningkat dari kenaikan bulan sebelumnya.
Untuk sentimen domestik, Ibrahim melihat adanya kekhawatiran yang meningkat setelah lonjakan harga minyak mentah semakin memicu risiko defisit fiskal mendekati 3%. Hal ini juga berimbas pada kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, serta kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadap pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua

