Kedelai Malika, Rahasia di Balik Manisnya Kecap Bango dan Asa Kedaulatan Pangan
- account_circle say say
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

Produktivitas kedelai nasional pada 2022 sekitar 15,43 kuintal atau 1,54 ton per hektare, dengan total produksi sekitar 301 ribu ton. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan mencapai hampir 2,8 juta ton.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Di balik aroma dan rasa manis kecap yang akrab di meja makan keluarga Indonesia, tersimpan cerita panjang tentang petani, benih, penelitian dan industri. Salah satunya adalah kedelai Malika, varietas kedelai hitam yang dikembangkan melalui kolaborasi akademisi, petani dan korporasi.
Kedelai Malika menjadi salah satu bahan baku kecap Bango. Kehadirannya sekaligus menjadi gambaran bagaimana riset pertanian dapat terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan kehidupan petani.
Indonesia merupakan konsumen kedelai dalam jumlah besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan tahu, tempe dan kecap. Namun, produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan nasional.
Berdasarkan data yang dikutip dalam materi CNBC Indonesia Research, produktivitas kedelai nasional pada 2022 sekitar 15,43 kuintal atau 1,54 ton per hektare, dengan total produksi sekitar 301 ribu ton. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan mencapai hampir 2,8 juta ton.
Kondisi tersebut membuat Indonesia masih bergantung pada impor. Pada 2023, impor kedelai disebut mencapai sekitar 2,67 juta ton, terutama berasal dari Amerika Serikat dan Brasil.
Perjalanan Malika dimulai pada awal 2000-an ketika Unilever Indonesia membutuhkan pasokan kedelai hitam berkualitas dan konsisten untuk kecap Bango.
Pada periode yang sama, peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan varietas kedelai hitam yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal.
Kerja sama tersebut kemudian menghasilkan varietas Malika yang resmi diakui sebagai varietas unggul nasional pada 2007.
Malika memiliki warna hitam pekat, rasa gurih, daya simpan tinggi dan kandungan protein yang disebut mencapai sekitar 37-40 persen per 100 gram biji kering.
Program kemitraan petani kemudian berkembang dari lahan awal sekitar 5 hektare di Jawa Tengah pada 2001. Berdasarkan laporan keberlanjutan Unilever Indonesia 2015-2016 yang dikutip dalam materi tersebut, program ini telah melibatkan lebih dari 10.500 petani di lebih dari 20 kabupaten di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.
Pada 2019, sekitar 1.052 hektare lahan tercatat ditanami varietas Malika. Kemitraan tersebut memberikan pendampingan budidaya, pelatihan teknis, akses benih dan jaminan penyerapan hasil panen.
Namun, perjalanan kedelai Malika masih menghadapi tantangan. Produktivitas kedelai nasional yang rendah, persaingan dengan kedelai impor serta perubahan iklim menjadi persoalan yang perlu diatasi.
Karena itu, pengembangan teknologi pertanian, peningkatan produktivitas dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi penting untuk memperkuat kedelai lokal.
Kisah Malika pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang bahan baku kecap. Di dalamnya terdapat perjalanan petani, peneliti dan industri membangun rantai pasok dari lahan hingga meja makan.
Di balik sebotol kecap, ada benih yang ditanam, petani yang bekerja dan riset yang terus dikembangkan. Dari sana muncul harapan bahwa kedelai lokal tidak hanya menjadi bahan baku industri, tetapi juga bagian dari perjalanan Indonesia menuju kemandirian pangan.
- Penulis: say say
