Kulit Pinang yang Dulu Jadi Sampah Kini Disulap Jadi Briket, Inovasi Mahasiswa KKN di Muaro Jambi
- account_circle say say
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

Mahasiswa KKN Posko 27 Gelombang 1 yang mengabdi di Desa Kunangan bersama masyarakat setempat. Mereka memanfaatan limbah perkebunan pinang atau Areca catechu, mahasiswa dan warga mencoba mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Bertahun-tahun, kulit pinang di Desa Kunangan, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, hanya dianggap sebagai sampah. Limbah dari perkebunan pinang itu biasanya menumpuk di pekarangan rumah, dibakar, atau dibiarkan membusuk tanpa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Tumpukan kulit pinang yang selama ini tidak bernilai justru disulap menjadi briket arang, bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kayu bakar maupun arang konvensional. Inovasi tersebut muncul dari mahasiswa KKN Posko 27 Gelombang 1 yang mengabdi di Desa Kunangan bersama masyarakat setempat.
Melalui pemanfaatan limbah perkebunan pinang atau Areca catechu, mahasiswa dan warga mencoba mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi. Proses pembuatan briket dimulai dengan mengumpulkan kulit pinang yang selama ini menjadi limbah.
Kulit pinang kemudian dijemur untuk mengurangi kadar air. Setelah cukup kering, bahan tersebut menjalani proses karbonisasi atau pembakaran dengan kondisi minim oksigen hingga berubah menjadi arang.
Arang yang dihasilkan selanjutnya dihaluskan hingga menjadi serbuk. Serbuk arang kemudian dicampur dengan perekat alami yang dibuat dari tepung tapioka. Campuran tersebut diaduk hingga merata sebelum dicetak sesuai bentuk yang diinginkan.
Briket yang telah dicetak kemudian dikeringkan hingga benar-benar siap digunakan.
Hasil akhirnya berupa briket berwarna hitam pekat yang dapat menghasilkan panas dan dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak maupun kebutuhan rumah tangga lainnya.
Pemanfaatan kulit pinang menjadi briket memberikan manfaat ganda bagi masyarakat Desa Kunangan.
Dari sisi lingkungan, inovasi tersebut membantu mengurangi tumpukan limbah kulit pinang yang sebelumnya hanya dibakar atau dibiarkan membusuk.
Sementara dari sisi ekonomi, briket membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat. Kulit pinang yang sebelumnya tidak memiliki nilai kini dapat diolah menjadi produk yang berpotensi dijual.
Inovasi tersebut juga dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan kayu bakar sekaligus mendorong pemanfaatan sumber energi alternatif berbasis limbah pertanian.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut ikut menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan. Meski memiliki potensi, pengembangan briket kulit pinang di Desa Kunangan masih menghadapi sejumlah kendala.
Peralatan produksi yang digunakan masih sederhana. Akses terhadap modal usaha juga masih terbatas. Selain itu, diperlukan edukasi lebih lanjut mengenai standar kualitas briket agar produk tersebut mampu bersaing apabila dipasarkan dalam skala lebih luas.
Karena itu, keberlanjutan inovasi tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, dinas terkait hingga kalangan akademisi. Dukungan tersebut penting agar pembuatan briket kulit pinang tidak berhenti sebatas proyek percobaan selama pelaksanaan KKN. Jika dikembangkan secara serius, limbah kulit pinang yang melimpah di Desa Kunangan berpotensi menjadi bahan baku usaha baru berbasis ekonomi sirkular.
Inovasi mahasiswa KKN bersama masyarakat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan limbah perkebunan dapat menjadi peluang apabila dikelola dengan kreativitas dan teknologi sederhana.
Dari kulit pinang yang selama ini dianggap sampah, Desa Kunangan kini memiliki peluang melahirkan produk energi alternatif yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
- Penulis: say say
