DULU DISANDARI KAPAL RAKSASA, Kini Jadi Mal! Tragisnya Nasib Pelabuhan Boom Batu Jambi
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 48 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Dermaga Boom Batu (AI).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Sulit dipercaya. Di lokasi yang kini dipenuhi pusat perbelanjaan modern dan deretan bangunan beton, dahulu berdiri salah satu pelabuhan paling sibuk di Jambi. Pelabuhan Boom Batu, yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi perdagangan di Sungai Batanghari, kini benar-benar hilang tanpa jejak.
Generasi muda yang setiap hari melintas atau berbelanja di kawasan WTC Batanghari dan sekitarnya mungkin tak pernah membayangkan bahwa di tempat itu kapal-kapal besar pernah hilir mudik mengangkut hasil bumi Jambi ke berbagai daerah.
Boom Batu bukan sekadar dermaga. Pelabuhan yang dibangun pada masa Hindia Belanda itu pernah menjadi pusat denyut ekonomi Jambi. Bahkan setelah Indonesia merdeka, aktivitas bongkar muat dan pelayaran masih berlangsung hingga memasuki era 2000-an, ketika transportasi sungai masih menjadi andalan masyarakat.
Namun kejayaan itu perlahan memudar. Sejak 1996, aktivitas bongkar muat yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II mulai dipindahkan ke Pelabuhan Talang Duku di Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Jambi. Perpindahan tersebut menjadi awal berakhirnya era emas Boom Batu.
Puncaknya terjadi pada 2007. Kawasan bekas pelabuhan disulap menjadi kompleks pertokoan, pusat perbelanjaan modern WTC Batanghari, serta hotel. Tak ada lagi sisa fisik pelabuhan yang pernah menjadi kebanggaan Kota Jambi.
“Lokasi pelabuhan Boom Batu itu berada di sekitar Angso Duo. Pada saat ini bekas-bekasnya tidak ada karena telah dibangun Mall WTC,” tulis Didik Pradjoko dan Bambang Budi Utomo dalam Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia (2013).
Kontrasnya begitu terasa. Dahulu kapal-kapal dagang berukuran besar bersandar di tepian Batanghari. Kini, hanya perahu-perahu kecil bermesin tempel yang sesekali melintas di antara deretan bangunan beton yang menutup wajah sungai.
Nasib Boom Batu juga berbeda dengan “saudaranya” di Palembang. Pelabuhan Boom Baru hingga kini masih beroperasi sebagai pelabuhan penting di Sumatera Selatan. Sementara Boom Batu di Jambi tinggal nama dalam lembaran sejarah.
Dibangun Belanda, Jadi Pusat Perdagangan
Keberadaan Boom Batu tak bisa dilepaskan dari Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Pulau Sumatera dengan panjang sekitar 800 kilometer yang berhulu di Pegunungan Bukit Barisan. Selama berabad-abad, Batanghari menjadi jalur utama transportasi dan perdagangan masyarakat Jambi.
Melihat besarnya potensi perdagangan, pemerintah Hindia Belanda membangun pelabuhan di pusat Kota Jambi. Lokasinya dipilih sangat strategis, berdekatan dengan pusat pemerintahan kolonial.
Jejak kawasan administrasi kolonial itu masih dapat ditemukan hingga kini. Bekas rumah Residen Jambi kini menjadi Markas Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolair) Polda Jambi. Tak jauh dari sana berdiri bangunan bekas Kantor Telegraf yang kini digunakan sebagai Kantor Pos Indonesia.
Dalam Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia disebutkan bahwa Jambi saat itu menjadi tempat bertemunya para saudagar dari berbagai daerah dan bangsa. Hasil bumi dari pedalaman dikumpulkan di kota sebelum dikirim ke berbagai wilayah melalui jalur sungai.
Pemerintah kolonial kemudian membangun Boom Batu hanya dalam waktu tiga bulan. Pelabuhan tersebut resmi digunakan pada 1 April 1929 dan sejak saat itu menjadi gerbang utama perdagangan Jambi.
Dari Emas dan Lada, Kini Batu Bara dan Sawit
Peran Boom Batu turut mendorong berkembangnya ekonomi Jambi. Aktivitas pelayaran di Batanghari menjadikan masyarakat pedalaman sebagai pemasok komoditas ekspor yang bernilai tinggi.
Dalam buku Jambi Dalam Sejarah 1500–1942 karya Lindayati, Junaidi T. Noor, dan Ujang Hariadi dijelaskan bahwa Jambi merupakan pelabuhan ekspor bagi berbagai komoditas unggulan seperti emas, lada, hasil hutan, karet, rotan, pinang, hingga kopra.
Seiring berjalannya waktu, wajah ekonomi Jambi ikut berubah. Ketika hasil hutan tak lagi menjadi primadona, ekspor bergeser ke komoditas baru seperti batu bara dan minyak kelapa sawit yang kini mendominasi perekonomian daerah.
Meski fungsi perdagangan tetap berjalan melalui pelabuhan yang lebih modern di Talang Duku, hilangnya Boom Batu menyisakan pertanyaan tentang pelestarian warisan sejarah kota. Sebab, pelabuhan yang pernah menjadi saksi lahirnya denyut perdagangan Jambi itu kini benar-benar lenyap, terkubur di bawah beton dan hanya hidup dalam catatan sejarah.(*)
Catatan Redaksi : Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua

