Defisit APBN Maret 2026 Capai Rp240,1 Triliun, Pemerintah Jaga Batas 3 Persen dari PDB
- account_circle say say
- calendar_month 24 menit yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan realisasi APBN hingga Maret 2026 yang mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
JAMBISNIS.COM – Pemerintah melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun hingga akhir Maret 2026. Nilai tersebut setara dengan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan defisit terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan.
“Defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (5/5/2026).
Secara rinci, pendapatan negara tercatat sebesar Rp574,9 triliun atau sekitar 18,2 persen dari target APBN. Angka ini tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Penerimaan perpajakan menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,2 persen yoy. Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun (tumbuh 20,7 persen yoy), sedangkan kepabeanan dan cukai sebesar Rp67,9 triliun yang mengalami kontraksi 12,6 persen yoy. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target APBN.
Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari pagu APBN, tumbuh 31,4 persen yoy. Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp610,3 triliun, sedangkan transfer ke daerah mencapai Rp204,8 triliun. Dengan kondisi tersebut, keseimbangan primer tercatat defisit Rp95,8 triliun.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit APBN tetap terkendali hingga akhir tahun. Presiden Prabowo Subianto menargetkan defisit tidak melampaui 3 persen dari PDB.
Selain itu, rasio utang pemerintah juga dijaga di kisaran 40 persen, jauh di bawah batas maksimal yang diatur undang-undang sebesar 60 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut berbagai indikator ekonomi nasional masih menunjukkan kondisi yang stabil, termasuk indeks keyakinan konsumen, cadangan devisa, dan kinerja sektor manufaktur. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 dapat mencapai sekitar 5,5 persen, ditopang oleh kinerja penerimaan negara dan aktivitas ekonomi yang tetap ekspansif.
- Penulis: say say


