Bursa Asia Menguat 4 Mei 2026, Kospi Cetak Rekor
- account_circle say say
- calendar_month 8 jam yang lalu

Ilustrasi layar perdagangan saham menunjukkan lonjakan indeks Kospi yang mencetak rekor tertinggi, memimpin penguatan bursa Asia pada 4 Mei 2026 di tengah meredanya ketegangan geopolitik global.
JAMBISNIS.COM – Bursa saham Asia dibuka menguat pada Senin pagi, 4 Mei 2026. Lonjakan dipimpin indeks Kospi yang melesat lebih dari 3 persen dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Penguatan juga terjadi di sejumlah bursa utama kawasan. Indeks Hang Seng naik 1,4 persen, sementara Taiex melonjak 2,65 persen. Di sisi lain, ASX 200 hanya menguat tipis 0,07 persen.
Di Asia Tenggara, indeks FTSE Straits Times naik 0,55 persen dan FTSE Bursa Malaysia KLCI menguat 0,13 persen.
Reli pasar terjadi di tengah meredanya kekhawatiran investor atas konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Sentimen positif muncul setelah Washington mengumumkan operasi pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai “Proyek Kebebasan”, yang bertujuan membebaskan kapal-kapal sipil yang terjebak akibat konflik di kawasan.
Komando militer AS menyatakan operasi ini melibatkan kapal perusak, lebih dari 100 pesawat, serta sekitar 15.000 personel militer. Langkah tersebut dinilai pasar sebagai upaya meredakan gangguan rantai pasok energi global.
Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah terkoreksi meski masih bertahan di atas level psikologis US$100 per barel. Kontrak West Texas Intermediate turun 0,59 persen ke US$101,34 per barel. Sementara Brent melemah 0,27 persen ke US$107,88 per barel.
Di sisi lain, pasar global tetap mencermati arah kebijakan dan pergerakan Wall Street. Indeks saham AS sebelumnya mencatat rekor baru, dengan S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup di level tertinggi sepanjang masa.
Namun, tidak semua indeks menguat. Dow Jones Industrial Average justru terkoreksi tipis, mencerminkan rotasi sektor di pasar.
Pasar Jepang dan China tidak beroperasi karena libur nasional, sehingga volume transaksi regional relatif lebih tipis dari biasanya.
Analis menilai penguatan ini masih rentan. Ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda, sementara volatilitas harga energi tetap menjadi faktor utama yang dapat membalikkan arah pasar dalam waktu singkat.
- Penulis: say say


