Emmanuel Macron Serukan Dunia Tak Jadi ‘Kacung’ AS-China
- account_circle say say
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan kepada negara-negara di dunia agar tidak menjadi “bawahan” dua kekuatan besar global, yakni Amerika Serikat dan China
JAMBISNIS.COM – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan kepada negara-negara di dunia agar tidak menjadi “bawahan” dua kekuatan besar global, yakni Amerika Serikat dan China, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Pernyataan itu disampaikan Macron saat kunjungannya ke Korea Selatan, di tengah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran yang belum mereda.
“Saya pikir tujuan kita bukan menjadi bawahan dari dua kekuatan hegemonik. Kita tidak ingin bergantung pada dominasi China, juga tidak ingin terlalu terpapar ketidakpastian Amerika,” kata Macron dalam forum mahasiswa di Seoul.
Pernyataan Macron mencerminkan meningkatnya kegelisahan negara-negara Eropa terhadap dinamika kepemimpinan global AS, terutama di bawah Presiden Donald Trump.
Dalam beberapa waktu terakhir, Washington mendorong sekutu Eropa untuk terlibat lebih jauh dalam konflik melawan Iran. Namun, respons yang muncul justru cenderung dingin.
Tidak ada dukungan terbuka dari negara-negara Eropa terhadap rencana agresif AS, termasuk wacana pembukaan jalur strategis Selat Hormuz.
Sejumlah analis menilai kondisi ini sebagai indikasi melemahnya dominasi global AS yang selama puluhan tahun menjadi pilar utama tatanan internasional.
Pengamat hubungan internasional Carlo Norrlof menyebut jaringan keamanan global yang dibangun AS selama beberapa generasi kini menghadapi tekanan serius.
Menurutnya, sikap negara-negara sekutu yang mulai menjaga jarak dari konflik menunjukkan adanya pergeseran keseimbangan kekuatan dunia.
“Kita mungkin sedang menyaksikan berakhirnya supremasi global yang selama ini dianggap wajar oleh banyak warga Amerika,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz, menjadi ujian nyata bagi pengaruh global AS. Jalur tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi energi dunia. Setiap eskalasi konflik berpotensi memicu dampak luas terhadap ekonomi global.
Namun, dalam situasi krisis yang semakin kompleks, kemampuan AS untuk mengendalikan dinamika geopolitik dinilai tidak lagi sekuat sebelumnya. Fenomena ini memperkuat pandangan bahwa dunia kini bergerak menuju sistem multipolar, di mana kekuatan global tidak lagi terpusat pada satu negara.
Macron melalui pernyataannya mendorong negara-negara untuk mengambil posisi independen dan tidak terjebak dalam tarik-menarik kepentingan dua kekuatan besar. Langkah tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Eropa mulai mencari peran baru dalam peta geopolitik global yang terus berubah.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar