Minggu, 9 Agu 2026
light_mode
Beranda » Ekonomi » APBN Februari Gali Lubang Tutup Lubang, Beban Bunga Utang Nyaris Rp100 Triliun!

APBN Februari Gali Lubang Tutup Lubang, Beban Bunga Utang Nyaris Rp100 Triliun!

  • account_circle say say
  • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Beban pembayaran bunga utang pemerintah terus meningkat dan mulai menekan ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan estimasi sementara yang dihitung dari selisih defisit anggaran dan keseimbangan primer, pembayaran bunga utang Indonesia pada Februari 2026 mencapai sekitar Rp99,8 triliun.

Nilai tersebut setara 27,8 persen dari total pendapatan negara yang tercatat sebesar Rp358 triliun. Jika dibandingkan dengan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun, porsi pembayaran bunga utang mencapai 28,8 persen.

Kondisi ini menandakan semakin besarnya tekanan fiskal yang harus ditanggung pemerintah dalam mengelola anggaran negara.

Risiko pembengkakan beban bunga utang diperkirakan meningkat seiring kenaikan imbal hasil surat utang negara.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,52 persen per 10 Maret 2026. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun berada di posisi 4,09 persen.

Secara kumulatif sejak awal tahun 2026, yield SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin.

Kenaikan yield ini berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan utang pemerintah di masa mendatang.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan pemerintah tetap mengelola utang secara hati-hati untuk menjaga risiko fiskal.

Menurut dia, pengelolaan portofolio utang dilakukan secara cermat agar rasio pembayaran bunga utang maupun Debt Service Ratio (DSR) tetap berada pada level yang aman.

“Dengan utang yang dikelola secara efisien dan ditopang oleh peningkatan penerimaan negara melalui berbagai reformasi, risiko tersebut tetap terkendali,” ujar Suminto.

Meski demikian, rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada Februari 2025, rasio pembayaran bunga utang tercatat 24,98 persen. Namun pada periode yang sama tahun ini, rasio tersebut meningkat menjadi 28,8 persen.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa kemampuan pendapatan negara untuk menutup kewajiban bunga utang semakin tertekan.

Pemerintah berharap peningkatan penerimaan pajak dapat membantu memperbaiki rasio tersebut. Pada Februari 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 30,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, menilai lonjakan pembayaran bunga utang dapat mengurangi fleksibilitas APBN sebagai instrumen stimulus ekonomi.

Menurut dia, ketika keseimbangan primer masih negatif, sebagian pembiayaan negara digunakan untuk menutup biaya bunga utang, bukan untuk memperluas belanja pembangunan.

“Struktur belanja menjadi lebih rigid dan ruang fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi semakin terbatas,” kata Rizal.

Ia menambahkan porsi bunga utang yang besar juga berpotensi menimbulkan crowding out, yakni mengurangi alokasi anggaran bagi sektor produktif seperti pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, serta program peningkatan produktivitas.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik global juga diperkirakan dapat memperburuk kondisi fiskal Indonesia.

Direktur Kebijakan dan Program Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menilai konflik di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan energi berpotensi membuat defisit APBN 2026 melampaui batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menurut dia, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan beban subsidi energi sekaligus menekan penerimaan negara.

Jika harga minyak Brent naik setiap 10 dollar AS per barel, biaya subsidi bahan bakar minyak diperkirakan bisa meningkat hingga 30 persen.

Sementara pelemahan nilai tukar rupiah sebesar Rp500 per dolar AS berpotensi meningkatkan beban subsidi agregat sekitar 3 persen.

“Belanja meningkat, sementara penerimaan berisiko melemah. Artinya, celah defisit anggaran bisa semakin melebar,” ujar Piter.

  • Penulis: say say

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Perak Akan Mengalami Kenaikan Seiring Meningkatnya Permintaan Mobil Listrik

    Harga Perak Akan Mengalami Kenaikan Seiring Meningkatnya Permintaan Mobil Listrik

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Prospek harga perak dinilai semakin cerah seiring melonjaknya permintaan dari sektor energi baru terbarukan (EBT) dan kendaraan listrik (EV) yang terus meningkat secara global. Analis Keuangan Finex Brahmantya Himawan mengatakan dua sektor tersebut menjadi katalis utama yang menciptakan tekanan struktural terhadap pasokan global, sehingga berpotensi mendorong harga perak naik dalam jangka menengah hingga […]

  • Bantuan Pangan Beras 2026 Cair Sekaligus 3 Bulan, 33,24 Juta KPM Terima 30 Kg Mulai Agustus

    Bantuan Pangan Beras 2026 Cair Sekaligus 3 Bulan, 33,24 Juta KPM Terima 30 Kg Mulai Agustus

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan program bantuan pangan beras tahun 2026 akan disalurkan sekaligus untuk tiga bulan kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Setiap penerima akan memperoleh total 30 kilogram beras untuk alokasi Juli, Agustus, dan September. Kebijakan tersebut diambil setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyetujui tambahan anggaran sebesar Rp17,52 triliun untuk mendukung […]

  • Harga Cabai Merah di Pasar Talang Banjar Turun, Cabe Rawit Hijau Naik

    Harga Cabai Merah di Pasar Talang Banjar Turun, Cabe Rawit Hijau Naik

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pergerakan harga kebutuhan pokok di Pasar Rakyat Talang Banjar, Kota Jambi, pada Selasa (30/6/2026), didominasi kondisi stabil. Meski demikian, sejumlah komoditas hortikultura masih mengalami fluktuasi, terutama cabai. Berdasarkan data terbaru Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, cabai merah besar turun 20 persen menjadi Rp 36.000 per kilogram. Penurunan serupa juga terjadi pada cabai […]

  • AFPI Perkuat Ekosistem Fintech Indonesia di Hong Kong Fintech Week 2025

    AFPI Perkuat Ekosistem Fintech Indonesia di Hong Kong Fintech Week 2025

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memperkuat posisi Indonesia di kancah global melalui partisipasi dalam Hong Kong Fintech Week (HKFW) 2025, ajang pameran dan konferensi fintech terbesar di dunia. Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar, mengatakan keikutsertaan ini menjadi langkah penting untuk mempromosikan ekosistem pinjaman daring (pindar) Indonesia sekaligus memperluas kerja sama lintas […]

  • Purbaya Usulkan Pajak Tambahan Nikel dan Batu Bara

    Purbaya Usulkan Pajak Tambahan Nikel dan Batu Bara

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah mengkaji penerapan pajak durian runtuh atau windfall tax terhadap komoditas nikel. Kebijakan ini ditujukan untuk menangkap tambahan keuntungan perusahaan yang muncul akibat lonjakan harga komoditas di pasar global. Purbaya mengatakan skema pajak tersebut masih dalam pembahasan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pemerintah juga tengah […]

  • IHSG Berpeluang Menguat, INET hingga BBRI Layak Dicermati

    IHSG Berpeluang Menguat, INET hingga BBRI Layak Dicermati

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pergerakan IHSG pada pekan ini diperkirakan masih berpeluang menguat, meski dengan ruang yang terbatas. Sejumlah analis pasar modal pun merekomendasikan saham dari sektor energi hingga perbankan yang dinilai memiliki potensi cuan. Pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026), IHSG tercatat menguat 12,62 poin atau naik 0,17 persen ke level 7.634. Secara mingguan, indeks menguat 2,35 […]

expand_less