IRGC Tegaskan Iran Penentu Akhir Perang dengan AS dan Israel, Bukan Donald Trump
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menegaskan bahwa pihak yang akan menentukan berakhirnya konflik di Timur Tengah adalah Iran, bukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Pernyataan tersebut disampaikan IRGC pada Selasa (10/3/2026) sebagai respons atas pernyataan Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran akan segera berakhir.
Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa masa depan konflik di kawasan Timur Tengah berada di tangan angkatan bersenjata Iran.
“Kamilah yang akan menentukan akhir perang,” demikian pernyataan resmi IRGC yang dikutip dari AFP.
IRGC juga menekankan bahwa pasukan Amerika Serikat tidak akan menjadi pihak yang menentukan berakhirnya konflik tersebut.
“Situasi dan status masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami. Pasukan Amerika tidak akan mengakhiri perang,” lanjut pernyataan itu.
Sebelumnya, Trump menyampaikan bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 akan segera berakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers di Florida pada Senin (9/3/2026).
Menurut Trump, perang tersebut tidak akan berlangsung lama. Ia juga memperingatkan bahwa jika konflik kembali terjadi, dampaknya akan jauh lebih besar.
Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran pasar global terhadap kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik tersebut sempat mengguncang pasar global. Bursa saham di berbagai negara mengalami penurunan tajam, sementara harga minyak dunia melonjak hingga mencapai sekitar 119 dollar AS per barel, level tertinggi sejak Juli 2022.
Namun setelah pernyataan Trump, kondisi pasar mulai mereda. Bursa saham di Wall Street kembali menguat, sementara pasar saham di Tokyo dan Seoul dibuka dengan sentimen positif pada Selasa.
Harga minyak dunia juga mulai turun sekitar lima persen setelah sebelumnya melonjak tajam.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Penunjukan tersebut diikuti dengan peluncuran sejumlah rudal ke wilayah Israel dan beberapa negara Arab.
Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Iran masih akan mempertahankan tekanan militer di kawasan, termasuk dengan menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia, sehingga penutupannya memicu kekhawatiran besar di pasar energi global.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar