Hampir 500 Motif Batik Tanjab Barat Bisa Jadi Peluang Bisnis, Perajin Dibidik Naik Kelas
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 15 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Batik khas Tanjab Barat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Potensi batik khas Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) tak hanya menjadi warisan kerajinan daerah. Jika dikembangkan menjadi produk turunan yang dibutuhkan pasar, batik juga berpeluang menjadi sumber pendapatan baru bagi perajin lokal dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tanjab Barat mendorong perajin batik berinovasi dengan mengolah kain batik menjadi berbagai produk bernilai tambah. Upaya ini dilakukan agar hasil kerajinan tidak hanya dijual dalam bentuk kain, tetapi juga menjadi produk fesyen dan perlengkapan rumah tangga yang memiliki pasar lebih luas.
Ketua Dekranasda Tanjab Barat, Fadhilah Sadat, mengatakan keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan perlu dikembangkan menjadi kegiatan usaha berkelanjutan. Perajin juga didorong membentuk kelompok usaha agar dapat belajar, berkreasi, dan meningkatkan kualitas produk bersama-sama.
“Saya berharap ilmu yang didapatkan selama pelatihan ini terus dikembangkan. Bentuk kelompok usaha agar bisa belajar dan berkreasi bersama sehingga produk yang dihasilkan makin berkualitas dan memiliki nilai jual tinggi,” kata Fadhilah baru-baru ini.
Menurut dia, pelestarian batik perlu berjalan beriringan dengan inovasi produk. Dengan begitu, kekayaan motif lokal dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat, terutama perajin yang menjadikan kerajinan sebagai sumber penghasilan keluarga.
Hampir 500 Motif Batik Jadi Modal Usaha Perajin
Dalam pelatihan tersebut, peserta belajar mengolah kain batik menjadi produk turunan, seperti tas etnik, tas jinjing atau tote bag, hingga tempat tisu. Diversifikasi produk ini membuka peluang bagi perajin untuk menyasar konsumen yang lebih beragam.
Produk turunan batik berpotensi menjangkau pasar suvenir, kebutuhan sehari-hari, cendera mata kegiatan, hingga buah tangan bagi pengunjung kawasan wisata. Namun, peluang tersebut perlu didukung desain yang menarik, kualitas pengerjaan yang konsisten, serta harga yang sesuai dengan daya beli konsumen.
Tanjab Barat memiliki potensi hampir 500 motif batik khas daerah. Dekranasda berharap kekayaan motif tersebut dapat dikembangkan lebih jauh, termasuk dengan mendorong setiap desa memiliki ciri khas motifnya sendiri.
Keunikan motif dapat menjadi pembeda produk di pasar. Jika dikelola secara konsisten, identitas tersebut berpotensi memperkuat daya saing kerajinan sekaligus memberikan nilai tambah bagi produk buatan perajin lokal.
Untuk mendukung pemasaran, Dekranasda Tanjab Barat tengah menyiapkan galeri UMKM sebagai wadah promosi dan penjualan produk masyarakat.
Keberadaan galeri diharapkan membantu perajin memperkenalkan karya mereka kepada konsumen. Meski demikian, penguatan pemasaran juga perlu diikuti kemampuan menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, menjaga persediaan, serta memanfaatkan kanal penjualan digital.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) Tanjab Barat, Sawaluddin, menyampaikan pelatihan tersebut merupakan bagian dari program pengembangan industri kerajinan daerah.
Pemerintah daerah berkomitmen mendorong produk lokal menembus pusat keramaian, kawasan wisata, pasar nasional, hingga peluang ekspor.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari, pada 20–22 Oktober 2026, dengan 20 peserta dari Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Betara, dan wilayah sekitarnya. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama Dekranasda dengan Dinas Koperindag Tanjab Barat.
Melalui peningkatan keterampilan dan pengembangan produk turunan, perajin diharapkan dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan keluarga, serta memperkuat kontribusi sektor kerajinan terhadap perekonomian daerah.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
