Konsumen Tidak Selalu Mencari Harga Murah, Apa yang Sebenarnya Mereka Beli?
- account_circle say say
- calendar_month 4 menit yang lalu
- print Cetak

Prilaku konsumen berubah saat memilih makanan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Persaingan bisnis semakin membuat harga bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan konsumen. Produk yang sama-sama tersedia di pasar dapat memiliki tingkat penjualan berbeda karena pengalaman, lokasi, pelayanan dan reputasi.
BPS Jambi dalam publikasi pola konsumsi masyarakat 2025 menempatkan pengeluaran rumah tangga sebagai salah satu indikator untuk membaca kondisi kesejahteraan masyarakat. Data tersebut tersedia hingga tingkat kabupaten/kota.
Bagi pengusaha, data tersebut perlu diterjemahkan menjadi pertanyaan yang lebih spesifik: apa yang sebenarnya dibeli konsumen?
Pada bisnis kuliner misalnya, konsumen tidak hanya membeli makanan. Mereka juga membeli kenyamanan tempat, kecepatan pelayanan, kebersihan, suasana dan kemudahan akses, sedangkan bisnis retail, konsumen dapat mempertimbangkan kelengkapan produk, lokasi, pelayanan dan kemudahan pembayaran.
Bank Indonesia juga mencatat perkembangan digitalisasi pembayaran semakin luas. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 44,86 juta merchant secara nasional dan 96,68 persen di antaranya merupakan UMKM.
Data tersebut menunjukkan bahwa kemudahan transaksi mulai menjadi bagian dari pengalaman pelanggan. Karena itu, pengusaha Jambi perlu mengidentifikasi value proposition bisnisnya. Jika produk tidak menjadi yang termurah, bisnis harus menjelaskan alasan konsumen tetap memilihnya.
Nilai bisnis dapat berasal dari kualitas, kecepatan, lokasi, komunitas, pelayanan atau pengalaman. Dengan pendekatan tersebut, strategi bisnis tidak terjebak pada perang harga. Harga tetap penting, tetapi konsumen pada akhirnya membandingkan harga dengan nilai yang mereka terima.
- Penulis: say say
