6,67 Persen Penduduk Jambi Masih Miskin, Ini Peta Kemiskinan Tiap Daerah
- account_circle say say
- calendar_month 28 menit yang lalu
- print Cetak

Kemiskinan Jambi Turun, Tapi Kesenjangan Antarwilayah Masih Terlihat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Persentase penduduk miskin di Provinsi Jambi kembali menurun pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan Jambi sebesar 6,67 persen, turun 0,52 poin persentase dibandingkan Maret 2025 dan 0,22 poin dibandingkan September 2025. Jumlah penduduk miskin juga turun menjadi 253,73 ribu orang, berkurang 17,2 ribu orang dalam setahun.
Namun, perbaikan tersebut belum menggambarkan kondisi yang seragam di seluruh wilayah Jambi. Data kabupaten/kota terbaru yang tersedia secara lengkap dari BPS menunjukkan perbedaan tingkat kemiskinan yang cukup lebar pada Maret 2025.
Pada periode tersebut, Tanjung Jabung Timur mencatat persentase penduduk miskin tertinggi di Jambi, yakni 9,96 persen. Posisi berikutnya ditempati Tanjung Jabung Barat sebesar 9,67 persen, Batang Hari 8,27 persen, Sarolangun 8,74 persen, dan Merangin 8,07 persen. Sementara itu, Muaro Jambi mencatat tingkat kemiskinan relatif lebih rendah, yakni 4,32 persen, disusul Bungo 5,17 persen, Tebo 5,97 persen, dan Kota Sungai Penuh 3,23 persen.
Dari sisi jumlah, Kota Jambi memiliki jumlah penduduk miskin terbesar, mencapai sekitar 47,21 ribu orang pada Maret 2025. Angka tersebut berkaitan dengan besarnya jumlah penduduk Kota Jambi dibandingkan daerah lain. Sementara Kota Sungai Penuh mencatat jumlah penduduk miskin sekitar 2,87 ribu orang.
Baca Juga : Pasar Kerja Jambi Membaik, Tapi Peta Pengangguran Antarwilayah Masih Berbeda
Perbedaan tersebut penting karena jumlah penduduk miskin dan persentase kemiskinan menceritakan dua hal berbeda. Wilayah dengan populasi besar dapat memiliki jumlah penduduk miskin yang lebih tinggi meskipun persentase kemiskinannya tidak menjadi yang tertinggi.
BPS juga mencatat perbedaan garis kemiskinan antardaerah. Pada data 2024, garis kemiskinan Kota Jambi mencapai sekitar Rp757 ribu per kapita per bulan, sementara Tanjung Jabung Barat sekitar Rp575 ribu. Perbedaan ini menunjukkan bahwa biaya memenuhi kebutuhan minimum juga tidak sama antarwilayah.
Bagi dunia usaha, data tersebut menjadi indikator penting dalam membaca daya beli dan karakter pasar lokal. Penurunan kemiskinan dapat memperluas ruang konsumsi sebagian masyarakat, tetapi peluang bisnis tetap bergantung pada pendapatan, struktur pekerjaan, kepadatan penduduk, harga kebutuhan, serta karakteristik masing-masing wilayah.
- Penulis: say say
