Pasar Kerja Jambi Membaik, Tapi Peta Pengangguran Antarwilayah Masih Berbeda
- account_circle say say
- calendar_month 35 menit yang lalu
- print Cetak

Job fair beberapa waktu lalu yang di buka pemerintah kota jambi dalam rangka HUT Kota Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Pasar tenaga kerja Provinsi Jambi menunjukkan perbaikan pada 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jambi pada Februari 2026 turun menjadi 3,99 persen, dari 4,48 persen pada Februari 2025. Jumlah pengangguran juga turun 11,69 persen secara tahunan, dari 84,50 ribu menjadi 74,62 ribu orang.
Namun, gambaran pasar kerja Jambi tidak seragam jika dilihat berdasarkan kabupaten dan kota. Data BPS 2025 menunjukkan perbedaan cukup lebar antarwilayah. Kota Jambi mencatat TPT sekitar 7,08 persen, menjadi salah satu wilayah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Provinsi Jambi. Diikuti Muaro Jambi sebesar 5,02 persen, Sarolangun 4,68 persen, Bungo 4,33 persen, dan Batang Hari 4,21 persen.
Sebaliknya, tingkat pengangguran relatif lebih rendah tercatat di sejumlah wilayah. Tanjung Jabung Timur berada di sekitar 2 persen, Tebo 2,21 persen, Kerinci 2,39 persen, Tanjung Jabung Barat 3,12 persen, dan Merangin 3,90 persen. Data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi pasar kerja tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi provinsi, tetapi juga struktur ekonomi dan karakteristik masing-masing daerah.
Muaro Jambi memberikan gambaran menarik. Pada 2025, jumlah angkatan kerja mencapai 239.183 orang, naik dari 224.271 orang pada 2024. Jumlah penduduk bekerja juga meningkat menjadi 227.168 orang dari 212.445 orang. Namun, pertumbuhan angkatan kerja yang lebih cepat membuat jumlah pengangguran masih berada di kisaran 12 ribu orang.
Secara provinsi, BPS mencatat angkatan kerja Jambi pada Februari 2026 sebanyak 1,87 juta orang. Penduduk yang bekerja mencapai 1,80 juta orang. Salah satu lapangan usaha dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja terbesar adalah akomodasi serta penyediaan makan dan minum, yang bertambah sekitar 19,38 ribu pekerja. Pada saat yang sama, pekerja formal mencapai 830,31 ribu orang atau 46,21 persen dari total pekerja.
Meski angka pengangguran membaik, tantangan pasar kerja Jambi belum selesai. Data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih menyerap sekitar 43,36 persen pekerja. TPT kelompok usia muda juga mencapai 16,98 persen, sementara pekerja informal masih mendominasi dengan porsi 57,27 persen.
Bagi dunia usaha, angka tersebut menunjukkan bahwa peluang ekonomi Jambi tidak tersebar secara merata. Pertanyaan berikutnya bukan sekadar berapa banyak pekerjaan yang tercipta, tetapi di daerah mana tenaga kerja tumbuh, sektor apa yang menyerap pekerja, dan keterampilan seperti apa yang paling dibutuhkan bisnis.
Dengan ekonomi Jambi yang tetap tumbuh, perubahan pasar tenaga kerja menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah investasi, ekspansi usaha, konsumsi masyarakat dan perkembangan pusat-pusat ekonomi baru di berbagai wilayah Jambi.
- Penulis: say say
