Ekonomi Jambi Tumbuh 4,93 Persen, Omzet UMKM Ikut Naik?
- account_circle say say
- calendar_month 23 menit yang lalu
- print Cetak

Ekonomi Jambi pada 2025 masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan kontribusi 34,49 persen. Sementara perdagangan besar dan eceran menyumbang 13,57 persen.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Ekonomi Provinsi Jambi terus menunjukkan penguatan. Setelah tumbuh 4,50 persen pada 2024, pertumbuhan ekonomi Jambi meningkat menjadi 4,93 persen pada 2025. Memasuki 2026, ekonomi daerah masih tumbuh 4,33 persen secara tahunan pada triwulan I.
Angka tersebut menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Namun, pertumbuhan ekonomi belum otomatis berarti seluruh pelaku UMKM mengalami kenaikan omzet.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), struktur ekonomi Jambi pada 2025 masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan kontribusi 34,49 persen. Sementara perdagangan besar dan eceran menyumbang 13,57 persen.
Dua sektor tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan aktivitas UMKM. Ketika produksi pertanian bergerak dan perdagangan meningkat, peluang perputaran uang di pasar, warung, usaha kuliner, jasa hingga usaha rumah tangga ikut terbuka.
Dari sisi ketenagakerjaan, TPAK Jambi pada Agustus 2025 mencapai 68,37 persen. Penduduk yang bekerja juga masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 43,36 persen.
Sementara itu, TPT Agustus 2025 berada di level 4,26 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 4,08 persen pada November 2025. Data November 2025 merupakan indikator ketenagakerjaan terbaru yang dirilis BPS pada 2026.
Perbaikan pasar kerja menjadi faktor penting bagi UMKM karena meningkatnya jumlah masyarakat yang bekerja dapat memperkuat daya beli. Sebaliknya, jika pendapatan rumah tangga masih terbatas, pelaku usaha tetap menghadapi tantangan untuk meningkatkan penjualan.
Di sisi lain, angka kemiskinan Jambi juga menunjukkan perbaikan. Persentase penduduk miskin pada Maret 2025 tercatat 7,19 persen, kemudian turun menjadi 6,89 persen pada September 2025.
Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa fondasi ekonomi masyarakat Jambi secara perlahan membaik. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar masuk ke kantong masyarakat dan meningkatkan omzet pelaku usaha.
Bagi UMKM, indikator yang paling terasa bukan sekadar pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi jumlah pelanggan, nilai transaksi dan omzet harian.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi Jambi pada 2026 perlu diikuti dengan penguatan daya beli, akses pembiayaan, digitalisasi pemasaran dan perluasan pasar UMKM. Jika hal tersebut berjalan beriringan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam statistik, tetapi juga terasa dari ramainya pasar, meningkatnya transaksi dan naiknya omzet pelaku UMKM.
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi.
- Penulis: say say
