Kabut Asap Jambi Makin Pekat: 253 Hotspot, 379 Hektare Terbakar, Jarak Pandang Cuma 1 Kilometer
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Kabut asap masih bertahan di wilayah Provinsi Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah Provinsi Jambi hingga Rabu (26/8/2026). Kondisi ini tercermin dari tingginya jumlah titik panas, luas lahan yang terindikasi terbakar, memburuknya kualitas udara, hingga anjloknya jarak pandang.
Data terbaru yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan Jambi masih menjadi salah satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla di Indonesia. Hingga pemantauan yang dipaparkan BNPB pada Selasa (25/8), terdapat 253 titik hotspot di Jambi dengan indikasi luas lahan terbakar mencapai lebih dari 379 hektare.
Yang menjadi perhatian, jarak pandang di wilayah Jambi saat itu hanya sekitar 1 kilometer. Kondisi tersebut menunjukkan dampak asap sudah cukup signifikan terhadap jarak pandang dan aktivitas masyarakat.
BNPB menyebut penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Jambi, di antaranya Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Merangin, dan Bungo.
Sementara beberapa wilayah seperti Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Batanghari dan Tebo dilaporkan telah mengalami kondisi api yang lebih terkendali. Meski demikian, operasi pemadaman dan pendinginan tetap dilakukan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Data harian Satgas Karhutla Jambi juga menunjukkan besarnya tekanan karhutla sepanjang 2026. Berdasarkan laporan hingga 23 Agustus 2026, jumlah hotspot yang terpantau sejak Januari mencapai 3.632 titik, sedangkan luas lahan yang terbakar tercatat sekitar 658,29 hektare.
Pada pemantauan 23 Agustus saja, terdapat 199 hotspot di Jambi. Kabupaten Sarolangun menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 90 titik.
Sehari berikutnya, BMKG juga menyebut Sarolangun sebagai wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak berdasarkan pemantauan 24 Agustus 2026.
Perbedaan angka antara laporan harian Satgas dan data BNPB terbaru perlu diperhatikan. Data 3.632 hotspot dan 658,29 hektare merupakan akumulasi pemantauan sejak awal tahun hingga 23 Agustus, sedangkan 253 hotspot dan lebih dari 379 hektare merupakan indikasi kondisi karhutla pada pemantauan BNPB terbaru. Keduanya tidak dapat dijumlahkan begitu saja.
Di Batanghari, laporan pemantauan pada 24 Agustus menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 265,3 µg/m³. Angka tersebut masuk kategori berbahaya. Data tersebut mengacu pada pemantauan kualitas udara BMKG dengan lokasi stasiun rujukan di Muaro Jambi pada pukul 22.00 WIB.
Sementara itu, kualitas udara di Muaro Jambi bahkan sempat mencapai ISPU 317 pada Senin (24/8) pukul 11.00 WIB berdasarkan data ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan parameter kritis PM2.5. Angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.
Sebagai acuan nasional, sistem ISPU Kementerian Lingkungan Hidup mengklasifikasikan angka 101–200 sebagai tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan 300 atau lebih sebagai berbahaya.
Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah daerah mengambil langkah pembatasan aktivitas pendidikan. Pemkab Muaro Jambi, misalnya, memberlakukan pembelajaran daring bagi seluruh satuan pendidikan selama tiga hari, mulai 26 hingga 28 Agustus 2026.
Di Bandara Sultan Thaha Jambi, jarak pandang sempat turun dari sekitar 1.500 meter pada pukul 14.00 WIB, menjadi 1.000 meter pada pukul 14.30 WIB, kemudian hanya 800 meter pada pukul 15.00 WIB.
Kondisi tersebut membuat dua penerbangan yang hendak mendarat di Bandara Sultan Thaha Jambi dialihkan ke bandara lain demi alasan keselamatan. Setelah itu jarak pandang kembali membaik menjadi sekitar 1.200 meter.
Penurunan jarak pandang bukan hanya menjadi persoalan penerbangan. BNPB menyebut asap pekat juga menjadi kendala dalam operasi udara karena membatasi jarak pandang pilot, sehingga pelaksanaan water bombing menjadi lebih sulit.
Pemerintah pusat telah mengerahkan kekuatan udara untuk membantu penanganan karhutla di sejumlah provinsi, termasuk Jambi.
BNPB menyebut terdapat 52 armada udara yang dikerahkan untuk patroli dan operasi water bombing. Sebanyak 15 armada digunakan untuk patroli udara, sementara 37 lainnya untuk water bombing. Dari total tersebut, 22 armada berada di wilayah Sumatera dan 30 lainnya di Kalimantan.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi karhutla Jambi. Pemerintah pusat menempatkan Jambi sebagai salah satu wilayah yang membutuhkan intervensi karena risiko kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut.
Dengan masih tingginya hotspot, memburuknya kualitas udara dan terbatasnya jarak pandang, masyarakat Jambi diminta meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika asap menebal, sementara penggunaan masker dan pemantauan kualitas udara menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan polusi.
Catatan data: Angka hotspot, ISPU, jarak pandang, dan luas lahan terbakar merupakan data pada waktu pemantauan yang berbeda. Hotspot bersifat dinamis dan dapat berubah dalam hitungan jam sehingga angka terbaru dapat berbeda dari pemantauan sebelumnya.
- Penulis: say say
