Rupiah Kembali Perkasa, Menguat 87 Poin ke Rp17.810 per Dolar AS
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pagi ini rupiah menguat snigfikan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah menunjukkan keperkasaannya. Memasuki perdagangan Senin (10/8/2026), mata uang Indonesia berhasil menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan tersebut membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di kawasan Asia pada pagi ini. Nilai tukar rupiah menguat 87 poin atau 0,49 persen ke posisi Rp17.810 per dolar AS. Angka tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.897 per dolar AS.
Sementara itu, selain rupiah, Dong Vietnam juga mengalami kenaikan 0,19 persen ke posisi VND 26.154 per dolar AS. Baht Thailand juga menguat 0,12 persen ke THB 32,99 per dolar AS, disusul peso Filipina yang naik 0,07 persen ke PHP 60,781 per dolar AS.
Ringgit Malaysia dan dolar Taiwan sama-sama menguat 0,05 persen. Yuan China turut menguat tipis 0,03 persen ke posisi CNY 6,745 per dolar AS.
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia. Won melemah 0,60 persen ke posisi KRW 1.416,17 per dolar AS. Yen Jepang juga melemah 0,29 persen ke JPY 158,26 per dolar AS. Sedangkan dolar Singapura terkoreksi 0,09 persen.
Sementara itu, Indeks dolar AS terpantau naik 0,14% ke posisi 99,679. Namun, posisi mata uang negara Paman Sam tersebut masih berada di bawah level 100 dan bertahan dekat level terendah sejak awal Juni. Kondisi ini membuat tekanan dari greenback terhadap mata uang kawasan tidak sebesar pekan-pekan sebelumnya.
Kondisi ini terjadi seiring pelaku pasar menunggu data inflasi AS pekan ini untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah data tenaga kerja AS pada Jumat pekan lalu menunjukkan ekonomi AS secara tak terduga kehilangan pekerjaan pada Juli. Selain itu, penambahan pekerjaan untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi jauh lebih rendah.
Data tersebut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang. Imbal hasil Treasury AS ikut turun setelah laporan tenaga kerja melemah, dengan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 4,637%.
Pasar berjangka kini memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 44%, turun dari 67% pada pekan sebelumnya.
Geoff Yu, senior EMEA market strategist BNY, menilai sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS ikut menekan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang pelemahan dolar AS.
“Sinyal pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang penurunan dolar AS, tetapi belum menjadi cerita pelonggaran yang jelas,” tulis Yu dalam catatannya, dikutip dari Reuters.
Meski begitu, perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada data inflasi AS. Konsensus memperkirakan inflasi inti AS naik 0,2% secara bulanan pada Juli, dengan laju tahunan diperkirakan menjadi 2,5%.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
