Rupiah Tertekan Lagi, Dibuka Rp17.935 per Dolar AS
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan. Setelah sempat menguat pada penutupan sebelumnya, mata uang Indonesia berbalik melemah saat mengawali perdagangan Jumat (7/8/2026).
Rupiah dibuka terdepresiasi sebesar 12 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.935 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini sekaligus mengakhiri tren penguatan yang terjadi pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Mengutip Antara, posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan Kamis (6/8/2026) yang berada di level Rp17.923 per dolar AS. Namun, posisi rupiah masih di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri dan luar negeri.
“Untuk perdagangan (7/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.920-Rp 17.970,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/8).
Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Penurunan harga energi mendorong investor menurunkan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve.
“Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 55 persen, turun dari 67 persen dua hari sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, pelaku pasar juga masih menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed. Laporan ADP National Employment menunjukkan perekrutan tenaga kerja sektor swasta pada Juli melambat, sementara perhatian kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,29 persen secara tahunan menjadi sentimen positif. Meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I, angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sehingga pertumbuhan ekonomi semester I 2026 tercatat sebesar 5,45 persen.
Selain itu, perhatian pelaku pasar sepanjang Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, tetapi juga pengumuman FTSE Russell pada periode 10–14 Agustus 2026.
“Status pembekuan (freeze) Indonesia diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pergerakan pasar saham dalam waktu dekat,” ujarnya.
Meski berbagai reformasi yang dilakukan regulator dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai sebagai perkembangan positif, hal tersebut belum menjamin perubahan sikap FTSE Russell maupun MSCI dalam waktu dekat. MSCI diperkirakan baru akan menyampaikan evaluasi lanjutan terhadap reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026.
Adapun MSCI akan mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia, dengan perubahan yang mulai berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Karena itu, arah kebijakan penyedia indeks global tersebut masih sulit diprediksi dan berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
