Rupiah Tersungkur, Tinggal Rp85 dari Level Rp18.000 per Dolar AS
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Petugas sedang menghitung uang pecahan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Sempat tampil perkasa pada perdagangan sebelumnya, rupiah kembali kehilangan tenaga. Mata uang Indonesia kembali melemah pada perdagangan Kamis (1/10/2026), sekaligus membuat posisinya semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Antara, rupiah hari ini berada di level Rp17.915 per dolar AS. Rupiah melemah 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.894 per dolar AS.
Dengan posisi tersebut, rupiah kini hanya berjarak Rp85 dari level Rp18.000 per dolar AS.
Padahal, sehari sebelumnya rupiah sempat mencatat penguatan cukup tajam. Pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026), rupiah menguat 87 poin atau 0,48 persen ke level Rp17.894 per dolar AS.
Di sisi lain, dolar AS masih menunjukkan penguatan meski tipis. Indeks dolar AS tercatat naik 0,03 persen ke posisi 101,482.
Pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi sentimen dari dalam maupun luar negeri. Dari domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi Indonesia periode September 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan inflasi tahunan, inflasi inti, dan inflasi bulanan pada pukul 11.00 WIB hari ini.
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi dan lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,30% secara bulanan pada September 2026.
Secara tahunan, inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,30%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Agustus yang tercatat sebesar 0,21% secara bulanan dan 3,19% secara tahunan.
Kenaikan harga sejumlah bahan pangan, terutama cabai, diperkirakan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Hasil rilis akan dicermati untuk mengukur tekanan harga di dalam negeri sekaligus membaca ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Inflasi yang masih terkendali dapat menjaga ruang bagi BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, kenaikan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga.
Dari eksternal, dolar AS masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua bulan. Greenback ditopang oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran mengenai tekanan inflasi global akibat perang di Timur Tengah.
Indeks dolar AS menguat sekitar 2% sepanjang September. Pergerakan tersebut menunjukkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar masih relatif tinggi dan berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah.
Data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE AS periode Agustus yang lebih rendah dari perkiraan memang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Namun, imbal hasil US Treasury tenor 10 dan 30 tahun tetap menyentuh level tertinggi baru. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah AS, tingginya penerbitan obligasi, dan tekanan inflasi global.
Kondisi ini membuat dolar AS masih mendapat dukungan meski pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed secara beruntun.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
