Kamis, 21 Mei 2026
light_mode
Beranda » Nasional » PMI Manufaktur Indonesia Melambat ke 50,1 pada Maret 2026, Tertekan Ekspor dan Biaya Produksi

PMI Manufaktur Indonesia Melambat ke 50,1 pada Maret 2026, Tertekan Ekspor dan Biaya Produksi

  • account_circle say say
  • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kinerja sektor industri nasional menunjukkan perlambatan setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 50,1 pada Maret 2026, dari sebelumnya 53,8 pada Februari. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menilai penurunan ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan pada sektor manufaktur, meskipun masih berada di zona ekspansi.

“Ini bukan sinyal kolaps, tetapi menunjukkan mesin manufaktur sedang menghadapi tekanan dari sisi permintaan dan biaya,” ujarnya.

Perlambatan PMI dipicu oleh melemahnya permintaan ekspor serta meningkatnya biaya produksi, terutama akibat kenaikan harga energi dan logistik.

Gejolak geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, turut memperburuk kondisi dengan meningkatkan ketidakpastian rantai pasok global dan biaya pengiriman.

Sejumlah indikator utama juga menunjukkan pelemahan, seperti turunnya output setelah empat bulan bertumbuh serta melambatnya pesanan baru untuk pertama kalinya dalam delapan bulan terakhir.

Kondisi ini berdampak signifikan terhadap industri padat karya, termasuk sektor mebel dan kerajinan yang sangat bergantung pada pasar ekspor.

Penurunan pesanan dari luar negeri membuat pelaku industri menahan produksi, menunda ekspansi, hingga lebih berhati-hati dalam merekrut tenaga kerja baru.

“Tekanan ekspor tidak hanya menurunkan penjualan, tetapi juga berdampak pada utilisasi pabrik dan keputusan tenaga kerja,” jelas Sobur.

Meski melambat, PMI manufaktur Indonesia masih berpeluang bertahan di zona ekspansi. Hal ini ditopang oleh permintaan domestik yang relatif stabil.

Namun, keberlanjutan ekspansi dinilai sangat bergantung pada stabilitas global, terutama terkait harga energi, nilai tukar, serta kebijakan pemerintah.

Pelaku industri pun mendorong pemerintah untuk memperkuat dukungan melalui pengendalian biaya logistik dan energi, perluasan akses pembiayaan, serta peningkatan promosi ekspor dan diversifikasi pasar.

“Yang dibutuhkan bukan sekadar bertahan di atas 50, tetapi memastikan ekspansi tetap sehat dan menciptakan lapangan kerja,” tegasnya.

  • Penulis: say say

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemangkasan Dana Transfer Daerah 2026, RI Disebut Kembali ke Pola Sentralisasi Ala Orde Baru

    Pemangkasan Dana Transfer Daerah 2026, RI Disebut Kembali ke Pola Sentralisasi Ala Orde Baru

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Kebijakan pemerintah pusat memangkas dana transfer ke daerah (TKD) dalam APBN 2026 memicu gelombang protes dari para kepala daerah. Langkah itu dinilai sebagai titik balik desentralisasi fiskal, bahkan dianggap mengarah kembali ke pola sentralisasi ala Orde Baru. Puluhan kepala daerah yang datang menemui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyuarakan keresahan atas pemangkasan TKD […]

  • BI Paparkan Daya Tahan Ekonomi RI pada Investor Global

    BI Paparkan Daya Tahan Ekonomi RI pada Investor Global

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Indonesia menegaskan kinerja ekonomi yang berdaya tahan di tengah berbagai krisis. Kinerja ekonomi Indonesia tersebut dinilai memperkuat kepercayaan para pelaku usaha AS yang beroperasi di Asia Tenggara. Hal itu disampaikan dalam sejumlah pertemuan Gubernur Bank Indonesia bersama Menteri Keuangan RI dengan investor global, serta pertemuan dengan US-ASEAN Business Council dan International Monetary Fund […]

  • Dirut Pertamina Tinjau Pemulihan Suplai Energi di Aceh usai Banjir dan Longsor

    Dirut Pertamina Tinjau Pemulihan Suplai Energi di Aceh usai Banjir dan Longsor

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Direktur Utama Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri meninjau langsung sejumlah titik layanan energi di Aceh pascabanjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut. Peninjauan dilakukan bersama jajaran Pertamina Patra Niaga untuk memastikan kelancaran suplai BBM dan LPG bagi masyarakat. Simon menyebut distribusi energi saat ini mulai pulih secara bertahap di Aceh, Sumatera Utara, dan […]

  • Antam dan BRIN Kolaborasi Tingkatkan Produksi dan Kualitas SDA Nasional

    Antam dan BRIN Kolaborasi Tingkatkan Produksi dan Kualitas SDA Nasional

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menjalin kerja sama strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meningkatkan produksi dan kualitas pengolahan sumber daya alam (SDA) melalui penerapan riset dan teknologi terkini. Direktur Utama Antam Achmad Ardianto menjelaskan, kemitraan ini tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga pemanfaatan teknologi untuk efisiensi operasional dan […]

  • Jadilah, Rupiah Menguat Rp 16.602 Per Dolar AS Meski Tipis

    Jadilah, Rupiah Menguat Rp 16.602 Per Dolar AS Meski Tipis

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah menguat tipis pada perdagangan hari ini, Kamis (30/10/2025). Rupiah dibuka Rp 16.602 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,09% dibanding penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.617 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Yen Jepang menjadi mata uang […]

  • Pertanian Sumbang 13,83% PDB Nasional, Produksi Beras Cetak Rekor di Era Prabowo

    Pertanian Sumbang 13,83% PDB Nasional, Produksi Beras Cetak Rekor di Era Prabowo

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencatatkan capaian besar dari sektor pertanian. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melaporkan, sektor ini berhasil menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan kontribusi mencapai 13,83%. “Sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi PDB nasional. Angka 13,83% itu disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan dalam rapat di […]

expand_less