Perang Iran vs AS-Israel Kian Memanas: 1.300 Tewas, Selat Hormuz Bergejolak
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Foto Ilustrasi
JAMBISNIS.COM – Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel semakin meluas setelah memasuki hari ke-13 sejak serangan pertama pada akhir Februari lalu. Serangan udara, rudal, hingga drone dilaporkan terus terjadi di berbagai titik di Timur Tengah, memicu ketegangan baru di kawasan strategis dunia.
Laporan terbaru menyebutkan korban tewas akibat perang telah melampaui 1.300 orang, sementara hampir 10.000 warga terdampak akibat bombardir yang menghantam sejumlah kota di Iran.
Data yang dihimpun kelompok pemantau hak asasi manusia menyebutkan sebagian besar korban berasal dari kalangan sipil. Serangan udara yang dilancarkan dalam beberapa hari terakhir menghantam sejumlah fasilitas strategis dan kawasan permukiman.
Di tengah eskalasi tersebut, pemerintah Iran menegaskan bahwa negara itu akan terus mempertahankan diri dari serangan gabungan Washington dan Tel Aviv.
Di tengah intensitas serangan, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dilaporkan mengalami luka akibat serangan udara.
Beberapa sumber pejabat Iran menyebut Mojtaba mengalami luka di bagian kaki, namun tetap dalam kondisi sadar dan berada di lokasi perlindungan dengan akses komunikasi terbatas.
Meski demikian, sejumlah pejabat pemerintah Iran memastikan kondisi Mojtaba stabil dan masih memimpin koordinasi pertahanan negara.
Sebagai respons atas serangan terhadap fasilitas ekonomi di Teheran, pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam akan menyerang aset ekonomi milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Militer Iran menyatakan pihaknya kini memiliki legitimasi untuk menyasar bank, pusat keuangan, serta fasilitas ekonomi yang dianggap berkaitan dengan kedua negara tersebut.
Ancaman tersebut menandai potensi perluasan konflik dari serangan militer ke perang ekonomi yang lebih luas. Ketegangan juga merembet ke wilayah lain di kawasan Teluk. Sebuah serangan drone dilaporkan menghantam tangki bahan bakar di Pelabuhan Salalah, Oman, hingga memicu kebakaran.
Petugas pertahanan sipil Oman masih berupaya memadamkan api yang melahap fasilitas pelabuhan tersebut. Hingga kini belum ada kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan drone tersebut.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, langsung melakukan komunikasi dengan Sultan Oman untuk membahas insiden tersebut dan memastikan penyelidikan dilakukan.
Situasi juga semakin tegang di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia. Beberapa kapal dilaporkan terkena proyektil misterius saat melintas di kawasan tersebut. Salah satu kapal bahkan mengalami kebakaran setelah dihantam benda tak dikenal.
Insiden ini meningkatkan kekhawatiran pasar global karena Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Di tengah meningkatnya tekanan internasional, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya belum mempertimbangkan gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Araghchi, konflik ini tidak bisa dihentikan hanya dengan kesepakatan sementara. Ia menilai perang harus diakhiri secara permanen dengan jaminan keamanan bagi Iran, bukan sekadar penghentian tembakan jangka pendek.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar