Mendag Budi Santoso Bantah MBG Jadi Penyebab Harga Ayam Naik, Rata-rata Nasional Rp40.259 per Kg
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Adanya program MBG, membuat harga Ayam capai Rp 45.000 / kg
JAMBISNIS.COM – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab utama kenaikan harga daging ayam di sejumlah daerah. Menurut dia, kenaikan harga komoditas pada dasarnya dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan pasokan. Saat permintaan meningkat dan disertai kepastian pasar, produksi akan menyesuaikan secara linear sehingga harga cenderung stabil.
“Justru sekarang ketika permintaan itu grafiknya begini (meningkat), ada kepastian, justru produksi itu ngikutin (naik) ya linear gitu, ngikutin permintaan. Sehingga harga malah cenderung stabil,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).
Ia menegaskan, tidak ada lonjakan harga signifikan yang bisa langsung dikaitkan dengan kebutuhan ayam untuk program MBG.
“Coba lihat apakah banyak (permintaan) terus tiba-tiba harga melonjak karena MBG? Kan nggak ada,” katanya.
Sebelumnya, harga daging ayam dilaporkan menyentuh Rp45.000 per kilogram di beberapa wilayah. Namun, berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2K), rata-rata harga nasional masih berada di angka Rp40.259 per kilogram.
Budi menjelaskan, angka Rp45.000 per kilogram tidak mencerminkan rata-rata nasional. Di sejumlah daerah, harga bahkan masih berada di bawah Rp40.000 per kilogram.
“Jadi bukan berarti rata-rata nasionalnya Rp45 ribu. Tapi yang harga mahal tadi, Rp45 ribu per Kg ya tetap kita cek. Kita cek terus kenapa dia mahal, mungkin pasokannya kurang atau memang pasar itu tiba-tiba kebutuhannya meningkat. Kita pastikan jangan sampai mahal. Semua kita usahakan sesuai harga acuan atau HET,” ujarnya.
Kementerian Perdagangan juga meminta pelaku usaha memastikan distribusi berjalan lancar, terutama ke daerah yang mengalami kenaikan harga. Budi mengakui, tren kenaikan permintaan biasanya terjadi menjelang Ramadan dan Lebaran. Meski demikian, pemerintah meminta pasokan tetap terjaga agar harga tidak melonjak.
“Biasanya kalau mendekati Lebaran, permintaan menjadi meningkat. Tapi kita minta diantisipasi, meskipun Lebaran atau Nataru, pasokan harus terjaga. Jadi ketika permintaan melonjak, ya tetap harus harga stabil,” tandasnya.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar