Kenapa Gorengan Selalu Jadi Menu Favorit Buka Puasa? Ini Penjelasan Psikologis dan Nutrisinya
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Gorengan
JAMBISNIS.COM – Gorengan hampir selalu hadir di meja berbuka puasa. Mulai dari bakwan, risoles, tempe goreng, hingga tahu isi, hidangan ini kerap menjadi pilihan utama masyarakat untuk membatalkan puasa. Meski sering disebut sebagai makanan kurang sehat, popularitas gorengan nyaris tak tergantikan setiap Ramadan.
Kecenderungan ini bukan tanpa alasan. Dari sisi fisiologis, tubuh yang berpuasa seharian mengalami penurunan kadar gula darah. Makanan yang digoreng umumnya mengandung kombinasi karbohidrat dan lemak, dua zat gizi yang mampu memberikan energi secara cepat. Sensasi hangat, gurih, dan renyah juga memberi efek menyenangkan setelah menahan lapar dan haus selama berjam-jam.
Selain faktor kebutuhan energi, aspek psikologis turut berperan. Gorengan memiliki kedekatan emosional dengan tradisi berbuka puasa di Indonesia. Aroma gorengan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar menjelang magrib sering kali memicu rasa lapar sekaligus nostalgia kebiasaan berbuka sejak kecil.
Dari sisi rasa, lemak pada gorengan mampu meningkatkan kelezatan makanan. Lemak juga memperlambat pengosongan lambung, sehingga pada awalnya membuat perut terasa lebih “terisi”. Inilah yang membuat gorengan terasa pas sebagai menu pembuka puasa, meskipun efek kenyangnya tidak selalu bertahan lama.
Namun, konsumsi gorengan tetap perlu diperhatikan. Proses penggorengan, terutama dengan minyak yang digunakan berulang kali, dapat menghasilkan senyawa yang berisiko bagi kesehatan. Kandungan lemak jenuh dan kalori yang tinggi juga berpotensi memicu gangguan pencernaan, meningkatkan kolesterol, serta menyebabkan rasa tidak nyaman jika dikonsumsi berlebihan saat berbuka.
Para ahli gizi menyarankan agar gorengan tidak dijadikan menu utama berbuka puasa. Gorengan sebaiknya dikonsumsi dalam porsi kecil dan diimbangi dengan makanan lain yang lebih bernutrisi, seperti buah, air putih, serta sumber protein dan serat.
Berbuka puasa idealnya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan makanan ringan yang mudah dicerna, sebelum berlanjut ke hidangan utama. Dengan demikian, kebutuhan energi tubuh tetap terpenuhi tanpa membebani sistem pencernaan.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar