Danantara Siapkan Rp16 triliun Bangun Hunian di Lahan Hibah Lippo
- account_circle -
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Danantara Indonesia menyiapkan anggaran hingga mencapai Rp16 triliun untuk mendukung pembangunan hunian vertikal pada lahan hibah Lippo Group. (F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara atau Danantara Indonesia menyiapkan anggaran hingga mencapai Rp16 triliun untuk mendukung pembangunan hunian vertikal pada lahan hibah Lippo Group.
Pendiri Yayasan Pelita Harapan James Riady menghibahkan tiga bidang lahan sekitar 30 hektare di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang direncanakan untuk pembangunan 140 ribu unit hunian vertikal bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
“Nilai pembangunannya kan rencana dari 12,8 hektare ini, itu kami akan bangun totalnya menjadi 18 tower. Itu perhitungannya kalau jadi dengan 32 lantai, kurang lebih rentangnya antara Rp14 triliun sampai Rp16 triliun,” kata CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani dikutip Antara, Senin (9/3/2026).
Rosan menyatakan Danantara Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan hunian vertikal itu, mengingat proyek ini mendukung target Program 3 Juta Rumah.
Proyek itu juga diyakini mampu membantu mengatasi permintaan dan penawaran perumahan.
Dalam proses pembangunan proyek itu, Danantara Indonesia bakal melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait hingga berkolaborasi dengan kontraktor swasta.
“Kami akan berkolaborasi. Jadi, itu peran Danantara dalam proyek ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menambahkan pembangunan hunian vertikal menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan keterbatasan lahan hunian di wilayah perkotaan sekaligus backlog perumahan.
Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi MBR merupakan salah satu prioritas utama dalam pembangunan nasional.
Setelah tinjauan lokasi, Kementerian PKP bersama Danantara Indonesia akan melanjutkan proses pematangan konsep pembangunan, termasuk penyusunan skema pengembangan kawasan hunian, mekanisme penentuan harga, serta perumusan konsep dan kriteria pembelian oleh MBR.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo menyatakan pembangunan hunian dapat memberikan manfaat besar ke perekonomian nasional.
“Perumahan itu dampak terhadap ekonomi kita luar biasa, bisa berdampak 1,5 sampai 5 kali. Berarti setiap rupiah yang kita keluarkan untuk perumahan ini juga berdampak luar biasa,” kata Hashim.
Dia menjelaskan saat ini masih ada sekitar 27 juta keluarga di Indonesia yang tinggal di rumah tidak layak huni (RTLH). Sementara jumlah keluarga yang dalam antrean hunian layak berkisar 9 juta hingga 15 juta keluarga.
Maka dari itu, kata dia, Program 3 Juta Rumah yang digalakkan oleh pemerintah dapat membantu mengatasi masalah perekonomian. Sebab, pembangunan properti melibatkan 185 bidang ekonomi, sehingga dapat menjadi penggerak roda perekonomian.
Hashim memperkirakan sektor perumahan dapat berkontribusi sebesar 1,5 persen hingga 2 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Dia pun optimistis sektor perumahan dapat membantu pemerintah mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, mengingat pemerintah tengah mendorong pembangunan hunian secara masif.
“Saya amat yakin bahwa kita akan mencapai 8 persen, karena dari perumahan saja kami hitung sudah 1,5 persen sampai 2 persen,” ujarnya.
Hashim menyebut pembangunan hunian akan melibatkan berbagai pihak secara aktif, baik dari sisi pemerintah maupun swasta.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua


Saat ini belum ada komentar