Dana Nasabah Bank Jambi Rp143 Miliar Dibobol Hacker, Rp19 Miliar Terdeteksi Mengalir ke Kripto
- account_circle say say
- calendar_month 23 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Ilustrasi Hacker
JAMBISNIS.COM – Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan bahwa sebagian dana nasabah Bank Pembangunan Daerah Jambi yang dibobol peretas telah berhasil teridentifikasi. Dari total kerugian yang mencapai sekitar Rp143 miliar, sekitar Rp19 miliar diketahui mengalir ke aset kripto, sementara sebagian dana lainnya terdeteksi masuk ke sejumlah rekening bank lain.
“Sebagian dana senilai Rp19 miliar terdeteksi di crypto, ada juga yang masuk ke Bank Permata dan Sampoerna,” kata Al Haris saat diwawancarai pada Senin (9/3/2026).
Menurut dia, pemerintah daerah telah meminta Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk segera menindaklanjuti kasus tersebut. Langkah ini dilakukan agar dana nasabah yang hilang dapat dilacak dan potensi kerugian bisa diminimalkan.
Sementara itu, penyelidikan kasus peretasan yang menguras saldo lebih dari 6.000 rekening nasabah terus dilakukan oleh Polda Jambi.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jambi, Taufik Nurmandia, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Bareskrim Polri guna mempercepat proses penyelidikan.
“Benar, saat ini kami sedang dalam tahap komunikasi dengan Bareskrim Polri,” ujar Taufik.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk menelusuri aliran dana hasil peretasan sekaligus mengungkap pelaku yang berada di balik kejahatan siber tersebut.
Akibat insiden peretasan yang terjadi pada 22 Februari 2026, layanan digital Bank Jambi hingga kini masih mengalami pembatasan operasional.
Akses mobile banking dan ATM diketahui masih diblokir selama sekitar dua pekan terakhir sebagai bagian dari upaya pengamanan sistem.
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Jambi, Zulfikar, menjelaskan bahwa pihak bank saat ini tengah memenuhi berbagai instrumen keamanan yang diminta oleh otoritas melalui pihak vendor sistem teknologi informasi.
“Pemenuhan instrumen security terus berjalan. Ini menjadi tanggung jawab vendor, bukan Bank Jambi secara langsung,” ujar Zulfikar.
Ia menambahkan bahwa evaluasi terhadap sistem teknologi informasi dilakukan secara menyeluruh agar insiden serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Kasus ini menjadi salah satu insiden keamanan siber terbesar yang pernah menimpa bank daerah di Indonesia, sekaligus menjadi peringatan bagi industri perbankan untuk terus memperkuat sistem perlindungan digital terhadap ancaman peretasan.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar