Senin, 21 Sep 2026
light_mode
Beranda » Ekonomi » APBN 2026 Tertekan: Windfall Komoditas Tak Cukup Tahan Dampak Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah

APBN 2026 Tertekan: Windfall Komoditas Tak Cukup Tahan Dampak Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah

  • account_circle say say
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Harapan pemerintah terhadap “durian runtuh” dari lonjakan harga komoditas global mulai memudar. Meski harga minyak, batu bara, dan crude palm oil (CPO) sempat melonjak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tambahan penerimaan negara dinilai belum cukup kuat menopang APBN 2026.

Kenaikan harga komoditas sempat memicu optimisme. Minyak Brent bahkan menembus level US$110 per barel pada awal April 2026, sementara harga batu bara bertahan di kisaran US$140 per ton dan CPO berada di level tinggi. Kondisi ini dipicu eskalasi konflik yang mengguncang pasar energi global.

Namun, realitas fiskal menunjukkan cerita berbeda. Lembaga pemeringkat global masih melihat peluang perbaikan indikator utang Indonesia, seiring potensi tambahan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam (SDA). Bahkan, potensi windfall profit diperkirakan bisa mencapai ratusan triliun rupiah.

Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa situasi saat ini tidak bisa disamakan dengan era booming komoditas sebelumnya. Pemerintah kini dihadapkan pada dilema besar antara meningkatkan penerimaan negara, menjaga pasokan dalam negeri, serta memperkuat ketahanan energi.

Akibatnya, tidak semua kenaikan harga komoditas dapat langsung dikonversi menjadi pemasukan negara. Efektivitas penerimaan juga terhambat oleh faktor produksi, kebijakan fiskal, hingga perubahan mekanisme setoran dari BUMN.

Data hingga Maret 2026 menunjukkan tekanan mulai terasa. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) justru mengalami penurunan, terutama dari sektor migas yang anjlok signifikan. Sementara itu, penerimaan dari sektor nonmigas hanya tumbuh terbatas.

Di sisi lain, tekanan belanja negara justru meningkat lebih cepat. Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah mendorong lonjakan subsidi energi serta biaya impor. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit anggaran jika tidak diantisipasi dengan kebijakan fiskal yang hati-hati.

Secara keseluruhan, windfall komoditas pada 2026 diperkirakan tidak lagi menjadi penopang utama APBN. Pemerintah pun didorong untuk lebih fokus menjaga stabilitas fiskal, ketimbang mengandalkan lonjakan harga komoditas yang sifatnya sementara dan penuh ketidakpastian.

  • Penulis: say say

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Aceh Selatan Diberhentikan, Mendagri Tunjuk Baital Mukadis Jadi Plt Bupati

    Bupati Aceh Selatan Diberhentikan, Mendagri Tunjuk Baital Mukadis Jadi Plt Bupati

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menunjuk Wakil Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis, sebagai pelaksana tugas (Plt) bupati menggantikan Mirwan MS. Penunjukan ini dilakukan setelah Mirwan diberhentikan sementara karena pergi umrah tanpa izin pada saat Aceh Selatan mengalami bencana banjir dan longsor. “Yang bersangkutan dikenakan sanksi pemberhentian sementara selama tiga bulan karena melanggar ketentuan, […]

  • Harga Batu Bara Cetak Rekor Tertinggi, tapi Indonesia Dapat Banyak Kabar Buruk

    Harga Batu Bara Cetak Rekor Tertinggi, tapi Indonesia Dapat Banyak Kabar Buruk

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga batu bara global kembali melonjak ke level tertinggi bulan ini, namun di balik kenaikan itu, tersimpan sejumlah tantangan bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama dunia. Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi USD 108,5 per ton, menguat 0,69 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi rekor tertinggi sejak awal […]

  • Rupiah Diprediksi Melemah Jelang Rilis Notulen Rapat The Fed

    Rupiah Diprediksi Melemah Jelang Rilis Notulen Rapat The Fed

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda bergerak pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Kurs rupiah tercatat stagnan di level Rp17.995 per dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Antara, mata uang Indonesia tidak mengalami perubahan sama sekali atau 0 poin (0,00 persen) dibandingkan hari sebelumnya. Dengan demikian, kurs rupiah masih bertahan di level psikologis Rp17.995 per dolar […]

  • Pemprov DKI Lanjutkan Bebas Pajak dan Ganjil Genap Mobil Listrik

    Pemprov DKI Lanjutkan Bebas Pajak dan Ganjil Genap Mobil Listrik

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan tetap mempertahankan insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai, termasuk pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Kepala Badan Pendapatan Daerah DKI Jakarta, Lusiana Herawati, mengatakan kebijakan tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri mengenai pemberian insentif fiskal kendaraan […]

  • Harga Emas Perhiasan di Jambi Naik Jadi Rp8,65 Juta per Mayam, Emas Antam Tembus Rp2,72 Juta per Gram

    Harga Emas Perhiasan di Jambi Naik Jadi Rp8,65 Juta per Mayam, Emas Antam Tembus Rp2,72 Juta per Gram

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas perhiasan di Jambi kembali mengalami kenaikan pada Selasa (16/6/2026). Berdasarkan pantauan di pasar lokal, harga emas perhiasan kini mencapai Rp8.650.000 per mayam. Sementara itu, harga beli kembali (buyback) emas perhiasan berada di kisaran Rp8.150.000 per mayam. Kenaikan ini membuat nilai emas perhiasan di Jambi berada di kisaran Rp15 juta lebih per […]

  • 17 Tahun Menanti, Transmigran Kerinci Masih Tunggu Hak Lahan dan Listrik

    17 Tahun Menanti, Transmigran Kerinci Masih Tunggu Hak Lahan dan Listrik

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Penantian panjang masih membayangi para transmigran di kawasan Sungai Bermas, Kabupaten Kerinci, Jambi. Setelah ditempatkan melalui program transmigrasi pada periode 2009–2011, sebagian warga hingga kini masih menunggu kepastian pemenuhan hak atas Lahan Usaha II seluas 0,75 hektare. Data terbaru yang dipublikasikan ANTARA Foto pada 3 Agustus 2026 menyebutkan terdapat 65 kepala keluarga (KK) […]

expand_less