PMI Manufaktur Indonesia Melambat ke 50,1 pada Maret 2026, Tertekan Ekspor dan Biaya Produksi
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Pekerja PT Polytama Propindo memastikan aktivitas operasional pabrik polipropilena berjalan dengan baik, Jumat (29/2/2026)./Dokumentasi Pertamina
Kinerja sektor industri nasional menunjukkan perlambatan setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 50,1 pada Maret 2026, dari sebelumnya 53,8 pada Februari. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menilai penurunan ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan pada sektor manufaktur, meskipun masih berada di zona ekspansi.
“Ini bukan sinyal kolaps, tetapi menunjukkan mesin manufaktur sedang menghadapi tekanan dari sisi permintaan dan biaya,” ujarnya.
Perlambatan PMI dipicu oleh melemahnya permintaan ekspor serta meningkatnya biaya produksi, terutama akibat kenaikan harga energi dan logistik.
Gejolak geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, turut memperburuk kondisi dengan meningkatkan ketidakpastian rantai pasok global dan biaya pengiriman.
Sejumlah indikator utama juga menunjukkan pelemahan, seperti turunnya output setelah empat bulan bertumbuh serta melambatnya pesanan baru untuk pertama kalinya dalam delapan bulan terakhir.
Kondisi ini berdampak signifikan terhadap industri padat karya, termasuk sektor mebel dan kerajinan yang sangat bergantung pada pasar ekspor.
Penurunan pesanan dari luar negeri membuat pelaku industri menahan produksi, menunda ekspansi, hingga lebih berhati-hati dalam merekrut tenaga kerja baru.
“Tekanan ekspor tidak hanya menurunkan penjualan, tetapi juga berdampak pada utilisasi pabrik dan keputusan tenaga kerja,” jelas Sobur.
Meski melambat, PMI manufaktur Indonesia masih berpeluang bertahan di zona ekspansi. Hal ini ditopang oleh permintaan domestik yang relatif stabil.
Namun, keberlanjutan ekspansi dinilai sangat bergantung pada stabilitas global, terutama terkait harga energi, nilai tukar, serta kebijakan pemerintah.
Pelaku industri pun mendorong pemerintah untuk memperkuat dukungan melalui pengendalian biaya logistik dan energi, perluasan akses pembiayaan, serta peningkatan promosi ekspor dan diversifikasi pasar.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar bertahan di atas 50, tetapi memastikan ekspansi tetap sehat dan menciptakan lapangan kerja,” tegasnya.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar