Kurs Rupiah Hari Ini, Menguat Tipis!
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (3/3/2026), di level Rp16.861. (F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan Selasa (3/3/2026).
Berdasarkan data pasar uang, rupiah bergerak menguat sebesar 7 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp16.861 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp16.868 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,14% ke level 98,52.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan, sentimen positif datang dari Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di angka 52,6.
Bahkan, lanjut dia, S&P Global melaporkan bahwa indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan adanya ekspansi solid pada kondisi pengoperasian manufaktur yang merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024.
“Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama 7 bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025,” ungkapnya, baru-baru ini.
Berdasarkan laporan peserta survei, Ibarahim mengatakan, jumlah pelanggan naik dan kepercayaan diri membaik. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, seiring produsen manufaktur Indonesia mencatat kembali peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam 6 bulan.
“Kenaikan pada permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022,” tambahnya.
Menurut Ibrahim, S&P Global mencatat meningkatnya penjualan telah mendorong perusahaan menaikkan ketenagakerjaan enam kali dalam 7 bulan pada tingkat tertinggi sejak November 2025. Kenaikan jumlah karyawan membantu manufaktur Indonesia meningkatkan produksi pada Februari 2026. Output mengalami ekspansi pada laju tercepat sejak April 2024.
Ketika terjadi peningkatan, Ibrahim menyebut, perusahaan mengaitkan hal ini dengan kenaikan permintaan baru. Perusahaan juga mencatat bahwa produksi tambahan digunakan untuk membangun stok untuk bersiap menghadapi kenaikan permintaan mendatang sehingga inventaris pascaproduksi naik selama 4 bulan berjalan.
Meski demikian, lanjut Ibrahim, rupiah masih dibayangi sentimen yang semakin meluas seputar perang di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. perang di Timur Tengah juga meningkatkan kekhawatiran terhadap distribusi minyak dunia.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua


Saat ini belum ada komentar