KAI Bangun Hunian Vertikal di Manggarai Juli 2026, Target 5.000 Unit Terintegrasi Transportasi
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, dan Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu berfoto bersama usai penandatanganan nota kesepahaman antara KAI dan BTN di Jakarta, Jumat (22/5/2026). (ANTARA/Shofi Ayudiana)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai membangun hunian vertikal di kawasan Stasiun Manggarai pada Juli 2026 untuk menjawab tingginya mobilitas warga sekaligus menekan beban perjalanan harian di ibu kota, dikutip dari ANTARA News.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memastikan proyek tahap awal dimulai pada Juli–Agustus 2026. Ia menargetkan proses konstruksi selesai dalam waktu 13 bulan hingga serah terima unit.
“Kami mulai bangun Juli–Agustus dan targetkan 13 bulan sudah bisa serah terima,” ujar Bobby.
KAI langsung mengarahkan pengembangan Manggarai menjadi pusat bisnis baru atau central business district (CBD) kedua di Jakarta. Perusahaan menyiapkan lahan sekitar 62 hektare untuk mengembangkan kawasan hunian, bisnis, dan komersial secara terpadu.
Pada tahap awal, KAI membangun proyek di lahan 2,2 hektare dengan tiga tower. Selanjutnya, KAI melanjutkan pembangunan di lahan 1,6 hektare untuk delapan tower tambahan dengan total sekitar 5.000 unit hunian.
KAI merancang hunian vertikal ini dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Lokasi proyek terhubung langsung dengan berbagai moda transportasi, mulai dari KRL, kereta bandara, LRT, hingga kereta jarak jauh.
KAI mencatat sekitar 1,3 juta penumpang menggunakan KRL setiap hari, dengan sekitar 300 ribu penumpang beraktivitas di Stasiun Manggarai. KAI menilai tingginya mobilitas tersebut mendorong kebutuhan hunian dekat pusat transportasi agar masyarakat dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan.
KAI menggandeng PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) untuk mendukung pembiayaan proyek dan kredit pemilikan rumah (KPR).
Hunian yang dibangun terdiri dari tipe dua kamar tidur dengan luas 36 hingga 45 meter persegi. KAI mematok harga mulai Rp500 jutaan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sementara unit non-subsidi dipasarkan mulai Rp700 juta hingga di atas Rp1 miliar.
KAI membuka peluang mengembangkan proyek serupa di berbagai kota. Perusahaan saat ini mengelola aset lahan sekitar 327 juta meter persegi yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.
- Penulis: say say

