Viral LCC MPR RI 2026, Jawaban Sama Dinilai Berbeda, Juri Disorot Publik
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Momen kontroversial Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat saat jawaban peserta dari SMAN 1 Pontianak dinilai berbeda oleh juri, meski dianggap serupa oleh publik.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Video final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar yang diselenggarakan MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi viral di media sosial. Kontroversi muncul setelah dewan juri dinilai tidak konsisten dalam memberikan penilaian terhadap jawaban peserta.
Peristiwa itu terjadi saat sesi tanya jawab rebutan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menjawab.
Mereka menyampaikan bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden. Namun, juri Dyastasita Widya Budi justru memberikan nilai minus lima karena jawaban dinilai tidak tepat.
Kesempatan kemudian berpindah ke Regu B dari SMAN 1 Sambas yang menyampaikan jawaban serupa. Kali ini, juri memberikan nilai penuh.
Perbedaan penilaian tersebut langsung memicu protes dari peserta. Regu C menilai jawaban yang mereka berikan tidak berbeda secara substansi.
Menanggapi keberatan tersebut, Dyastasita tetap pada keputusannya. Ia beralasan bahwa jawaban Regu C dianggap tidak menyebutkan unsur Dewan Perwakilan Daerah secara jelas.
Situasi semakin memanas ketika juri lain, Indri Wahyuni, menekankan pentingnya artikulasi dalam menjawab pertanyaan. Ia menyebut ketidakjelasan penyampaian dapat memengaruhi penilaian.
Video kejadian ini kemudian menyebar luas dan menuai kritik dari warganet di berbagai platform media sosial resmi MPR. Menanggapi polemik tersebut, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, menyampaikan permohonan maaf.
Ia mengakui adanya kelalaian dalam proses penilaian dan memastikan akan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja juri serta sistem perlombaan.
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujarnya.
Akbar juga menyoroti aspek teknis, seperti tata suara dan mekanisme penyampaian keberatan peserta, yang dinilai perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang. Kasus ini menjadi sorotan publik sekaligus bahan evaluasi terhadap pelaksanaan kompetisi pendidikan agar lebih transparan, objektif, dan adil.
- Penulis: say say
