Wisata Kerinci Bisa Jadi Mesin Ekonomi Baru, Penginapan dan Pemandu Lokal Perlu Masuk Pasar Digital
- account_circle say say
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

Wisata di gunung kerinci dan perkebunan teh kayu aro.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Digitalisasi membuka peluang baru bagi pelaku usaha pariwisata dan produk lokal di Kabupaten Kerinci, Jambi. Penginapan, pemandu wisata, penyedia perjalanan, kedai kopi, hingga produsen oleh-oleh memiliki kesempatan memperluas pasar melalui mesin pencari, media sosial, sistem reservasi, dan pembayaran digital.
Peluang tersebut didukung perkembangan transaksi digital nasional. Bank Indonesia mencatat hingga Juli 2026 terdapat 45,46 juta merchant QRIS di Indonesia, dengan 96,69 persen di antaranya merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Data ini menunjukkan pembayaran digital telah menjadi bagian penting dari aktivitas bisnis nasional.
Di Kerinci, peluang tersebut dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi wisata alam yang tersebar di sejumlah kecamatan. Dokumen perencanaan Kabupaten Kerinci mencatat sekitar 128 objek wisata telah terdata pada 2020. Angka itu merupakan data historis, bukan jumlah terbaru objek wisata yang aktif pada 2026.
Sejumlah destinasi yang dikenal wisatawan antara lain Danau Kerinci di kawasan Kecamatan Danau Kerinci, Gunung Kerinci dan Perkebunan Teh Kayu Aro di kawasan Kayu Aro, serta Air Terjun Telun Berasap dan Danau Gunung Tujuh di Kecamatan Gunung Tujuh. Kawasan Lempur di Kecamatan Gunung Raya juga memiliki destinasi seperti Danau Kaco dan Danau Lingkat.
Keberadaan destinasi tersebut membuka peluang bagi usaha pendukung pariwisata. Di sekitar Kayu Aro, misalnya, pengelola penginapan dapat menawarkan paket menginap bagi wisatawan yang ingin menikmati perkebunan teh atau mendaki Gunung Kerinci. Pelaku usaha juga dapat menyediakan informasi perlengkapan pendakian, transportasi lokal, dan jasa pemandu melalui kanal digital.
Sementara itu, pelaku usaha di sekitar Danau Kerinci dapat memasarkan penginapan, makanan lokal, jasa transportasi, serta paket kunjungan wisata. Di kawasan Lempur, promosi digital dapat diarahkan pada wisata alam dan perjalanan menuju Danau Kaco maupun Danau Lingkat, dengan informasi akses, kebutuhan perjalanan, dan ketentuan keselamatan yang jelas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi dalam publikasi statistik hotel dan akomodasi 2025 mencatat Kabupaten Kerinci memiliki 12 akomodasi hotel nonbintang, dengan 156 kamar dan 283 tempat tidur. Data tersebut memperlihatkan adanya basis usaha penginapan yang dapat memanfaatkan pemasaran daring untuk menjangkau calon pelanggan sebelum mereka tiba di lokasi.
Langkah digitalisasi tidak cukup hanya menyediakan kode QRIS. Pengusaha perlu memperbarui alamat, harga, jam operasional, nomor kontak, foto, serta ulasan pelanggan di profil bisnis dan media sosial. Penginapan juga dapat memanfaatkan katalog digital atau sistem reservasi agar calon tamu lebih mudah membandingkan layanan.
Kolaborasi antarusaha menjadi peluang berikutnya. Penginapan dapat bekerja sama dengan pemandu, pengelola transportasi, kedai kopi, dan produsen oleh-oleh untuk menawarkan paket perjalanan terpadu. Dengan demikian, belanja wisatawan berpotensi menjangkau lebih banyak usaha lokal, bukan hanya pengelola destinasi.
Meski demikian, promosi digital harus disertai perhitungan biaya iklan, komisi platform, diskon, pengemasan, dan transaksi. Pelaku usaha perlu mencatat jumlah pertanyaan, pemesanan yang berhasil, nilai transaksi, serta pelanggan berulang untuk mengetahui efektivitas promosi.
Dengan memadukan pembayaran digital, pemasaran daring, dan kerja sama antarusaha, potensi wisata Kerinci dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang lebih luas bagi UMKM. Tantangannya adalah memastikan promosi didukung pelayanan yang baik, informasi akurat, akses yang jelas, dan produk lokal yang mampu memenuhi kebutuhan wisatawan.
- Penulis: say say
