Update Rupiah Hari Ini: Menguat 5 Poin, Dolar AS Turun 0,07 Persen
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pecahan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah kembali menunjukkan keperkasaannya. Mata uang Indonesia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026), sekaligus menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Mengutip Antara, rupiah dibuka menguat 5 poin atau 0,03 persen menjadi Rp17.894 per dolar AS. Angka tersebut membaik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.899 per dolar AS.
Meski penguatannya masih terbatas, rupiah berhasil kembali turun ke bawah Rp17.900 per dolar AS pada awal perdagangan. Pergerakan ini menjadi sinyal positif setelah nilai tukar rupiah sebelumnya berada dalam tekanan
Penguatan rupiah juga terjadi ketika indeks dolar AS mengalami pelemahan. Pada perdagangan hari ini, indeks dolar turun 0,07 persen ke level 102,145.
Koreksi terhadap dolar AS tersebut belum banyak mengubah posisi greenback. Mata uang negeri Paman Sam masih berada dekat level tertinggi dalam 18 bulan, sehingga tekanan dolar AS terhadap mata uang global belum sepenuhnya reda.
Kekuatan dolar masih ditopang oleh ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap arah harga energi. Konflik yang semakin panas membuat investor tetap berhati-hati dan menjaga permintaan terhadap dolar sebagai aset aman.
Kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara dua kapal tanker juga dilaporkan diserang pada akhir pekan.
Meski begitu, harga minyak justru terkoreksi pada perdagangan Asia. Brent turun sekitar 1% ke US$103,55 per barel, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina pada Minggu.
“Kami memperkirakan Houthi akan terus menyerang aset energi Arab Saudi, yang dapat menopang kenaikan harga minyak dan dolar AS,” tulis analis Commonwealth Bank of Australia, dikutip dari Reuters.
Bank tersebut juga menilai belum akan ada terobosan besar dalam upaya perdamaian AS-Iran pada pekan ini, meski Iran telah mengonfirmasi menerima proposal perdamaian AS melalui perantara.
Selain geopolitik, kontrak berjangka (futures) Treasury melemah, sementara perdagangan pasar tunai tutup karena hari libur di Amerika Serikat dan Jepang.
Sedangkan sentimen di pasar saham cenderung lebih optimistis, dengan kontrak berjangka indeks ekuitas AS mencatat kenaikan tipis.
Para pelaku pasar kini menantikan data terbaru mengenai indeks harga konsumen AS yang akan dirilis pekan ini serta pernyataan Ketua Federal Reserve AS, Kevin Warsh, untuk mendapatkan petunjuk mengenai laju kenaikan suku bunga lebih lanjut.
“Argumen bahwa dolar AS akan keluar dari rentang pergerakan 15 bulannya semakin kuat,” ungkap para ahli strategi Barclays yang dipimpin oleh Themistoklis Fiotakis dalam sebuah catatan.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
