Israel Tolak Pesawat Ethiopian Airlines Mendarat gegara Pilot asal Indonesia
- account_circle say say
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Pesawat kargo Ethiopian Airlines yang terpaksa putar balik ke Addis Ababa, Ethiopia, setelah otoritas Israel menolak pendaratan karena salah satu pilotnya berkewarganegaraan Indonesia. Insiden ini terjadi di tengah pengetatan aturan keamanan penerbangan oleh Israel.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Otoritas Israel menolak pendaratan pesawat kargo Ethiopian Airlines setelah mengetahui salah satu pilotnya berkewarganegaraan Indonesia. Insiden tersebut membuat pesawat terpaksa kembali ke Addis Ababa, Ethiopia, meski sudah mengudara menuju Israel.
Mengutip CNN Indonesia, Selasa (13/10/2026), peristiwa itu terjadi pada Minggu (11/10) malam. Penolakan tersebut berkaitan dengan pengetatan aturan keamanan penerbangan yang diberlakukan Israel terhadap maskapai asing.
Menurut laporan media Israel, termasuk Channel 13 dan Ynet, otoritas setempat baru menerima daftar awak pesawat setelah pesawat lepas landas. Setelah mengetahui adanya pilot asal Indonesia, pihak berwenang tidak memberikan izin pendaratan.
Pesawat kemudian berbalik arah menuju Addis Ababa. Dalam perjalanan, pesawat dilaporkan membuang bahan bakar ke laut sebagai bagian dari prosedur penerbangan. Pilot yang bersangkutan selanjutnya digantikan oleh pilot lain yang memenuhi persyaratan untuk mendarat di Israel.
Kebijakan tersebut muncul setelah insiden keamanan yang melibatkan penerbangan Flydubai pada 30 September 2026. Berdasarkan laporan media Israel, seorang pilot asal Oman diduga berupaya membajak pesawat dan menabrakkannya ke Bandara Ben Gurion setelah menikam kopilot. Aksi tersebut dilaporkan berhasil digagalkan dengan intervensi penumpang.
Peristiwa itu mendorong evaluasi terhadap prosedur pemeriksaan keamanan awak dan maskapai asing yang terbang ke Israel. Pemerintah Israel kemudian memperketat ketentuan bagi warga negara dari negara yang dianggap bermusuhan atau tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Pekan lalu, Kementerian Perhubungan Israel dilaporkan menerbitkan surat yang mewajibkan operator penerbangan memastikan warga negara dari negara musuh tidak menjadi pilot, awak pesawat, maupun penumpang dalam penerbangan menuju Israel.
Otoritas juga akan melakukan penilaian berkala untuk memastikan maskapai menerapkan prosedur mitigasi risiko keamanan.
Kasus Ethiopian Airlines memperlihatkan dampak langsung perubahan kebijakan tersebut terhadap operasional penerbangan internasional. Maskapai perlu memastikan dokumen dan kewarganegaraan seluruh awak telah memenuhi ketentuan negara tujuan sebelum pesawat diberangkatkan.
Bagi industri penerbangan, pemeriksaan administratif yang terlambat berpotensi memicu perubahan rute, konsumsi bahan bakar tambahan, serta gangguan jadwal penerbangan.
- Penulis: say say
