Israel Babak Belur Dihantam Rudal Iran, Dugaan Kerusakan Tel Aviv Disebut Ditutup-tutupi
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Penampakan Kota Tel Aviv yang di Bom rudal Iran
JAMBISNIS.COM – Serangan balasan Iran dalam konflik dengan Israel dan Amerika Serikat disebut menimbulkan kerugian besar bagi Israel. Namun, sejumlah laporan menyebut dampak kerusakan akibat serangan tersebut tidak sepenuhnya dipublikasikan kepada publik. Konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat mulai memanas sejak 28 Februari 2026. Kedua pihak saling melancarkan serangan yang menargetkan fasilitas militer hingga wilayah strategis.
Sejumlah laporan menyebut Israel mengalami korban jiwa serta kerugian material yang tidak sedikit. Selain itu, biaya perang yang harus dikeluarkan juga terus meningkat setiap harinya.
Di sisi lain, Iran dinilai mampu melancarkan serangan dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan sistem pertahanan milik Israel dan Amerika Serikat. Iran diketahui menggunakan drone Shahed-136, yang diperkirakan memiliki harga sekitar 20.000 hingga 50.000 dolar AS per unit atau setara ratusan juta rupiah.
Sebaliknya, sistem pencegat rudal yang digunakan Israel memiliki biaya jauh lebih mahal. Salah satunya adalah sistem pertahanan udara Arrow-3, yang disebut dapat mencapai sekitar 3 juta dolar AS atau sekitar Rp50 miliar untuk satu rudal pencegat.
Perbedaan biaya tersebut membuat serangan drone dan rudal Iran dinilai mampu menguras sumber daya militer Israel dan sekutunya. Di tengah situasi tersebut, muncul pula laporan mengenai pembatasan peliputan media di Israel.
Seorang jurnalis asal India, Praj Mohan Singh, mengaku mengalami keterbatasan saat meliput dampak serangan rudal Iran di Israel. Ia menyebut wartawan tidak diizinkan mengakses sejumlah lokasi penting, termasuk rumah sakit yang menampung korban.
Menurut Singh, otoritas Israel juga membatasi dokumentasi kerusakan akibat serangan rudal. Ia bahkan mengklaim bahwa beberapa rudal Iran menghantam target tanpa sirene peringatan terlebih dahulu, berbeda dengan pernyataan resmi pemerintah Israel yang menyebut sistem peringatan dini berfungsi dengan baik.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan di media sosial mengenai transparansi informasi selama konflik berlangsung. Sejumlah pengamat menilai pembatasan informasi tersebut merupakan bagian dari strategi komunikasi perang untuk mengendalikan persepsi publik.
Sementara itu, pihak lain berpendapat bahwa langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas domestik di tengah konflik yang masih berlangsung. Hingga kini, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan sedikitnya 13 orang tewas dan lebih dari 1.900 orang terluka akibat serangan yang terjadi sejak akhir Februari. Konflik antara Iran dan Israel sendiri masih terus berlangsung dan memicu kekhawatiran akan eskalasi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar