Investasi Sarolangun Rp214 Miliar, Hilirisasi Jadi Kunci Dongkrak Ekonomi Daerah
- account_circle say say
- calendar_month 19 jam yang lalu
- print Cetak

erdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sarolangun yang diperbarui pada Maret 2026, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada 2025 mencapai Rp7,95 triliun. Sektor pertambangan dan penggalian menyumbang Rp5,34 triliun, sedangkan industri pengolahan tercatat Rp951,24 miliar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Realisasi investasi Kabupaten Sarolangun mencapai Rp214 miliar hingga triwulan II 2026. Nilai tersebut menunjukkan aktivitas penanaman modal masih berlangsung, tetapi pemerintah daerah menghadapi pekerjaan besar untuk meningkatkan investasi sekaligus memperluas dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.
Di tengah persaingan menarik investor, Sarolangun perlu mengoptimalkan potensi perkebunan, pertanian, dan pertambangan. Tantangannya bukan hanya mendatangkan modal baru, melainkan memastikan investasi mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan usaha lokal, dan meningkatkan nilai tambah komoditas.
Data realisasi investasi yang disampaikan Pemerintah Provinsi Jambi untuk semester I 2026 mencatat nilai investasi Sarolangun sebesar Rp214 miliar. Sebagai pembanding, Kabupaten Muaro Jambi mencapai Rp780 miliar, Tanjung Jabung Barat Rp758 miliar, dan Tebo Rp723 miliar.
Kesenjangan tersebut menjadi sinyal bahwa potensi sumber daya alam belum otomatis menghasilkan nilai penanaman modal yang besar. Kepastian perizinan, kesiapan infrastruktur, ketersediaan tenaga kerja terampil, serta akses pasar menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya tarik investasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sarolangun yang diperbarui pada Maret 2026, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada 2025 mencapai Rp7,95 triliun. Sektor pertambangan dan penggalian menyumbang Rp5,34 triliun, sedangkan industri pengolahan tercatat Rp951,24 miliar.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya basis ekonomi berbasis sumber daya alam, sekaligus ruang pengembangan industri pengolahan. Penguatan hilirisasi berpotensi membuka peluang usaha baru, mulai dari pengolahan hasil perkebunan hingga tumbuhnya pemasok dan jasa pendukung industri.
- Penulis: say say
