Biaya Usaha Naik, UMKM Perlu Hitung Ulang Harga Jual agar Tetap Untung
- account_circle say say
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

UMKM yang sedang berjuwlan di pinggir jalan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu lebih cermat menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual. Kenaikan bahan baku, ongkos distribusi, kemasan, serta energi dapat menggerus keuntungan meskipun omzet usaha terlihat stabil.
Tekanan biaya ini perlu diperhatikan di tengah perubahan harga barang dan jasa sepanjang 2026. Bank Indonesia (BI) dalam Laporan Perekonomian Provinsi Jambi Agustus 2026 mencatat inflasi tahunan Jambi mencapai 3,85 persen pada triwulan II 2026, meningkat dibandingkan 3,55 persen pada triwulan sebelumnya.
BI menyebut kenaikan harga bensin dan keterbatasan pasokan hortikultura setelah berakhirnya masa puncak panen menjadi faktor yang mendorong tekanan harga. Meski demikian, inflasi daerah tidak berarti seluruh biaya produksi UMKM naik dengan persentase yang sama.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Provinsi Jambi melandai menjadi 2,97 persen pada September 2026. Angka ini merupakan gambaran perubahan harga konsumen secara umum, bukan ukuran langsung biaya yang ditanggung setiap pelaku usaha.
Kesalahan yang kerap berisiko bagi UMKM adalah menetapkan harga jual hanya berdasarkan biaya bahan utama. Padahal, biaya kemasan, transportasi, listrik, tenaga kerja, sewa tempat, penyusutan alat, hingga biaya platform penjualan juga perlu diperhitungkan.
Sebagai ilustrasi, produk yang dijual Rp20.000 memiliki biaya bahan baku Rp9.000, kemasan Rp2.000, distribusi Rp2.000, serta promosi dan platform Rp2.000. Sisa Rp5.000 belum otomatis menjadi laba bersih karena masih ada biaya lain yang harus dialokasikan.
Pelaku UMKM Sarolangun dapat mulai dengan mencatat biaya setiap produk, menghitung jumlah barang terjual, dan mengevaluasi perubahan harga pemasok secara berkala. Catatan ini membantu pengusaha mengetahui produk yang benar-benar menguntungkan.
Ketika biaya meningkat, menaikkan harga bukan satu-satunya jalan. Pengusaha dapat mengurangi pemborosan bahan, menyesuaikan ukuran kemasan, mengatur pembelian stok, atau bernegosiasi dengan pemasok.
Langkah tersebut penting agar UMKM tidak sekadar mengejar omzet, tetapi mampu menjaga margin keuntungan dan arus kas. Dengan perhitungan biaya yang disiplin, pelaku usaha dapat mengambil keputusan harga berdasarkan angka, bukan perkiraan semata.
- Penulis: say say
