Bantuan Pangan Beras 2026 Cair Sekaligus 3 Bulan, 33,24 Juta KPM Terima 30 Kg Mulai Agustus
- account_circle say say
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

Seorang penerima manfaat menunjukkan bantuan pangan beras dari pemerintah yang disalurkan melalui Perum Bulog berdasarkan penugasan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan program bantuan pangan beras tahun 2026 akan disalurkan sekaligus untuk tiga bulan kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Setiap penerima akan memperoleh total 30 kilogram beras untuk alokasi Juli, Agustus, dan September.
Kebijakan tersebut diambil setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyetujui tambahan anggaran sebesar Rp17,52 triliun untuk mendukung pelaksanaan program bantuan pangan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan semula pemerintah mempertimbangkan penyaluran satu bulan terlebih dahulu. Namun, setelah anggaran disetujui, bantuan diputuskan disalurkan sekaligus selama tiga bulan.
“Persetujuannya dapat tiga bulan. Anggarannya Rp17,52 triliun. Awalnya mau satu bulan dahulu, tapi Kemenkeu memberikan ruang untuk langsung tiga bulan. Jadi bisa one shoot sekaligus tiga bulan,” ujar Ketut, Rabu (29/7/2026).
Menurut dia, usulan anggaran belanja tambahan (ABT) sebesar Rp17,52 triliun selanjutnya diproses menjadi Surat Penetapan Satuan Anggaran Bagian Anggaran (SP SABA) sebagai dasar pelaksanaan program.
Bapanas menargetkan penyaluran bantuan mulai berlangsung pada Agustus 2026 setelah Kepala Badan Pangan Nasional memberikan penugasan resmi kepada Perum Bulog.
Dalam program tersebut, pemerintah akan menggelontorkan sekitar 997,2 ribu ton beras kepada 33,24 juta KPM. Masing-masing keluarga menerima 10 kilogram beras per bulan atau total 30 kilogram untuk tiga bulan sekaligus.
Bapanas memastikan ketersediaan stok tidak menjadi kendala karena cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai 5,25 juta ton.
Ketut optimistis penyaluran bantuan dalam jumlah besar akan membantu menekan harga beras di tingkat konsumen.
Menurutnya, ketika jutaan keluarga penerima memperoleh beras secara langsung, kebutuhan membeli beras di pasar akan berkurang sehingga tekanan terhadap harga dapat mereda.
“Bayangkan 33 juta KPM kali tiga bulan berarti hampir satu juta ton beras. Ini langsung diterima di konsumen. Tentu kebutuhan orang membeli beras di pasar-pasar akan berkurang. Nah, pasti akan sedikit mengerem inflasi,” katanya.
Dibandingkan tahun sebelumnya, cakupan bantuan pangan beras pada 2026 lebih besar. Pada 2025, pemerintah menyalurkan bantuan untuk empat bulan alokasi, yakni Juni-Juli serta Oktober-November.
Sementara itu, pada 2026 program bantuan pangan direncanakan berlangsung selama lima bulan alokasi sehingga volume bantuan yang disalurkan menjadi lebih besar.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras hingga pekan keempat Juli 2026 masih mengalami kenaikan. Namun, jumlah kabupaten dan kota yang mencatat penurunan IPH beras terus bertambah menjadi 43 daerah.
Data BPS juga menunjukkan inflasi beras mulai melandai. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi beras pada Juni 2026 tercatat 3,98 persen, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.
Sementara itu, inflasi beras secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni 2026 berada di level 0,45 persen, atau masih di bawah 1 persen. Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga beras relatif terkendali meski pemerintah tetap memperkuat intervensi melalui program bantuan pangan.
Dengan penyaluran hampir satu juta ton beras kepada masyarakat berpendapatan rendah, pemerintah berharap pasokan di tingkat konsumen meningkat, harga beras lebih stabil, dan laju inflasi pangan dapat terus ditekan pada paruh kedua tahun 2026.
- Penulis: say say

