IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5 Persen pada 2026
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

IMF Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen di 2026, Inflasi Naik ke 3 Persen
JAMBISNIS.COM – International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5 persen, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,1 persen. Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali meningkat menjadi 5,1 persen pada 2027.
Selain itu, tingkat inflasi diproyeksikan naik menjadi 3 persen pada 2026, sebelum turun ke level 2,6 persen pada 2027.
IMF menyebutkan, proyeksi tersebut dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi dan rantai pasokan.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel telah memicu lonjakan harga komoditas, khususnya energi, serta mengganggu distribusi global.
IMF juga memperingatkan risiko perlambatan ekonomi global jika konflik berkepanjangan dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel hingga 2027.
Dalam laporan yang sama, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1 persen pada 2026 dan meningkat tipis menjadi 3,2 persen pada 2027.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, mencerminkan tekanan akibat ketidakpastian global.
IMF menilai ekonomi global masih mampu bertahan dari berbagai guncangan, namun konflik geopolitik terbaru menjadi ujian serius bagi stabilitas ekonomi dunia.
Kenaikan harga energi dan pangan dinilai menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di berbagai negara. Selain itu, sentimen penghindaran risiko di pasar keuangan turut menambah tekanan terhadap negara berkembang.
Negara-negara pengimpor komoditas disebut lebih rentan terhadap dampak tersebut, terutama akibat depresiasi mata uang yang memperburuk kenaikan harga energi dan pangan.
IMF juga menyoroti ketidakmerataan pertumbuhan di negara besar seperti Amerika Serikat dan China, yang berpotensi menambah risiko terhadap prospek ekonomi global. Dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi dunia dinilai masih menghadapi tantangan, termasuk fragmentasi geoekonomi dan perubahan struktur perdagangan global.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar