Ekspor Indonesia Tumbuh 8,14 Persen, Tapi Masih Kalah dari Vietnam dan Singapura
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Rab, 5 Nov 2025
- comment 0 komentar

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso
JAMBISNIS.COM – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa kinerja ekspor Indonesia terus menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Namun, dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Singapura, posisi Indonesia masih tertinggal dalam hal nilai dan struktur ekspor.
Dalam paparannya di Jakarta, Selasa (4/11/2025), Budi menyebut total nilai ekspor Indonesia tahun ini telah mencapai US$209 miliar, meningkat 8,14 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, surplus perdagangan Indonesia juga meningkat signifikan hingga 50,94 persen, dari US$22,16 miliar pada 2024 menjadi US$33,48 miliar tahun ini.
“Ekspor kita meningkat 8,14 persen dibanding tahun lalu. Ini tren positif di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Budi.
Meski capaian tersebut menunjukkan kemajuan, Mendag menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh berpuas diri. Menurutnya, pekerjaan rumah pemerintah masih cukup besar dalam memperkuat sektor industri manufaktur agar bisa bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.
“Kalau dibandingkan dengan Vietnam dan Singapura, kita masih tertinggal. Ekspor Singapura mencapai US$550 miliar, sementara Vietnam sudah US$350 miliar,” kata Budi.
Budi menjelaskan bahwa keunggulan ekspor Singapura dan Vietnam terletak pada struktur ekonomi yang berbasis manufaktur bernilai tambah tinggi. Negara-negara tersebut mampu mengolah bahan baku menjadi produk akhir yang lebih kompetitif untuk pasar global.
“Singapura mengimpor bahan baku dan bahan setengah jadi, kemudian mengolahnya di dalam negeri dan mengekspornya kembali sebagai produk bernilai tambah. Vietnam juga menunjukkan transformasi industri yang luar biasa selama dua dekade terakhir,” jelasnya.
Mendag Budi menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur yang benar dalam melakukan transformasi ekonomi. Saat ini, sekitar 70 persen ekspor Indonesia berasal dari industri pengolahan, berbanding terbalik dengan kondisi 15 tahun lalu yang didominasi ekspor bahan mentah.
“Kalau 15 tahun lalu, 70 persen ekspor kita bahan mentah dan 30 persen industri pengolahan. Sekarang sudah terbalik, ini artinya ada kemajuan,” ucapnya.
Meski demikian, Budi menilai kualitas industri pengolahan Indonesia masih perlu ditingkatkan agar setara dengan Singapura dan Vietnam. Ia menekankan pentingnya penguatan basis industri manufaktur dalam negeri untuk mendorong ekspor bernilai tinggi dan memperluas pasar global.
“PR kita masih besar. Yang penting sekarang bagaimana memperkuat basis industri supaya bisa bersaing, seperti yang dilakukan Vietnam dan Singapura,” pungkas Budi.
Pemerintah akan terus berupaya memperkuat hilirisasi industri, menarik investasi di sektor manufaktur, serta memperluas pasar ekspor nontradisional, termasuk ke kawasan Afrika dan Timur Tengah.
Dengan langkah tersebut, diharapkan ekspor Indonesia ke depan tidak hanya meningkat secara nilai, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar