Sawit Menggerakkan Ekonomi Batang Hari, Begini Jalur Perputaran Uangnya
- account_circle say say
- calendar_month 12 jam yang lalu
- print Cetak

Pemerintah daerah juga mendorong hilirisasi sawit, termasuk peluang industri turunan seperti margarin dan produk olahan lainnya. Tujuannya agar nilai tambah komoditas tidak berhenti pada produksi TBS dan CPO, tetapi menciptakan aktivitas industri serta lapangan kerja baru di daerah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kelapa sawit menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Kabupaten Batang Hari. Komoditas ini tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi pekebun, tetapi juga menghidupkan rantai usaha yang melibatkan perusahaan perkebunan, pabrik pengolahan, transportasi, perdagangan hingga konsumsi rumah tangga.
Pemerintah Kabupaten Batang Hari menyebut sektor perkebunan merupakan salah satu sumber utama penghasilan masyarakat. Hingga 2025, luas lahan perkebunan di daerah tersebut mencapai 254.971,36 hektare. Pemerintah daerah pada 2026 juga menyoroti sejumlah tantangan, mulai dari produktivitas yang belum optimal, hilirisasi yang masih terbatas, regenerasi pekebun hingga legalitas dan sertifikasi.
Data yang dikutip DPMPTSP Batang Hari dari BPS mencatat luas kebun kelapa sawit rakyat dan perusahaan mencapai sekitar 553.802 hektare dengan produksi sekitar 176.527 ton per tahun. Besarnya basis perkebunan tersebut membuat pergerakan harga dan produksi sawit berpotensi memberikan efek terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari sisi ekonomi makro, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbang 45,22 persen terhadap struktur ekonomi Batang Hari pada 2025. Pada tahun yang sama, ekonomi daerah tumbuh 5,21 persen. Sementara konsumsi rumah tangga menyumbang 41,89 persen PDRB dan tumbuh 4,43 persen.
Perputaran uangnya dapat dilihat dari rantai sederhana. Ketika hasil panen terjual, pendapatan pekebun digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pembelian pupuk dan sarana produksi, perawatan kendaraan, jasa angkutan hingga belanja di pasar. Uang kemudian berputar kembali ke pedagang dan penyedia jasa.
Per 6 Oktober 2026, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit Provinsi Jambi yang berlaku untuk periode 2–8 Oktober 2026 berada di sekitar Rp3.758,31 per kilogram untuk salah satu kelompok umur tanaman. Besaran harga berbeda berdasarkan umur tanaman dan ketentuan penetapan TBS. Harga tersebut turun dibandingkan periode sebelumnya.
Angka tersebut perlu dibaca sebagai harga acuan TBS tingkat provinsi, bukan otomatis harga bersih yang diterima setiap petani di Batang Hari. Harga aktual dapat dipengaruhi kualitas buah, umur tanaman, pola kemitraan, biaya angkut dan transaksi dengan pengepul atau pabrik.
Perubahan harga komoditas juga relevan bagi perekonomian regional. Bank Indonesia mencatat ekonomi Provinsi Jambi tumbuh 4,15 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sementara sektor pertanian tumbuh 0,75 persen. BI juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Jambi pada triwulan II 2026 rata-rata 186,43, meningkat 18,67 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di Batang Hari, efek ekonomi sawit tidak berhenti pada kebun. DPMPTSP mencatat realisasi investasi triwulan I 2026 mencapai Rp594,527 miliar, hampir menyamai target tahunan Rp600 miliar. Investasi tersebut didominasi sektor perkebunan, terutama pembangunan pabrik pengolahan CPO. Bahkan, tujuh pabrik CPO disebut masih dalam tahap pembangunan.
Pemerintah daerah juga mendorong hilirisasi sawit, termasuk peluang industri turunan seperti margarin dan produk olahan lainnya. Tujuannya agar nilai tambah komoditas tidak berhenti pada produksi TBS dan CPO, tetapi menciptakan aktivitas industri serta lapangan kerja baru di daerah.
- Penulis: say say
