Kampung Nelayan Merah Putih Disiapkan Jadi Mesin Ekonomi Baru Tanjab Timur
- account_circle say say
- calendar_month Senin, 5 Okt 2026
- print Cetak

Perkampungan Nelayan di Tanjung JabungTimur.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kabupaten Tanjung Jabung Timur mulai menempatkan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pada 2026, Desa Simbur Naik, Kecamatan Muara Sabak Timur, ditetapkan sebagai lokasi KNMP setelah melalui verifikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Desa tersebut dinilai memiliki komunitas nelayan yang cukup besar dan lahan yang mendukung pembangunan fasilitas perikanan.
Potensi yang menjadi dasar pengembangan cukup besar. Dokumen Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur mencatat target produksi perikanan daerah pada 2026 mencapai 26.664 ton, naik dari target 25.814 ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, produksi perikanan tangkap laut dan perairan umum ditargetkan mencapai 25.349 ton, sedangkan perikanan budidaya sekitar 1.315 ton.
Basis produksi tersebut terutama berasal dari laut. Data pemerintah daerah mencatat produksi perikanan laut Tanjab Timur mencapai 25.427,22 ton pada 2022, sementara produksi perairan umum mencapai 311,02 ton. Pemerintah Kab. Tanjung Jabung Timur Lebih jauh, Tanjab Timur memiliki garis pantai sekitar 230,9 kilometer dan wilayah perikanan tangkap laut sekitar 77.752 hektare. Posisi geografisnya yang berdekatan dengan kawasan Sijori dan Sibajo juga menjadi modal bagi pengembangan perdagangan hasil laut.
Komoditas tertentu bahkan menunjukkan posisi penting di tingkat provinsi. Kajian investasi Pemerintah Provinsi Jambi mencatat produksi udang laut Tanjab Timur mencapai 9.087 ton pada 2023, atau sekitar 64,13 persen dari produksi udang laut Provinsi Jambi. Produksi perikanan laut lainnya mencapai 15.124 ton.
Di sinilah KNMP diarahkan menjadi lebih dari sekadar kawasan permukiman nelayan. KKP merancang KNMP sebagai ekosistem ekonomi dari hulu hingga hilir, dengan fasilitas seperti dermaga, pabrik es, cold storage, sentra pengolahan atau pasar ikan, bengkel kapal, SPBN, hingga fasilitas logistik.
Fasilitas rantai dingin menjadi salah satu kunci. KKP menyebut pabrik es dan cold storage dapat menjaga mutu ikan sejak setelah ditangkap hingga proses penyimpanan, distribusi dan pemasaran. Dengan begitu, nelayan tidak selalu harus menjual hasil tangkapan secepat mungkin karena keterbatasan penyimpanan.
Mesin ekonominya berada pada rantai nilai tersebut. Ikan yang sebelumnya hanya dijual sebagai hasil tangkapan dapat masuk ke proses sortasi, pendinginan, pengolahan, pengemasan dan distribusi. Aktivitas itu menciptakan permintaan terhadap tenaga kerja, transportasi, perdagangan, perbekalan nelayan, jasa perbaikan kapal hingga usaha makanan berbasis hasil laut.
Pemerintah juga menyiapkan koperasi sebagai bagian dari pengelolaan bisnis KNMP. KKP pada 2026 membekali pengurus koperasi dengan kemampuan teknis, manajerial dan akses pembiayaan agar fasilitas tidak berhenti sebagai infrastruktur, tetapi benar-benar menjadi unit usaha masyarakat.
Bagi Tanjab Timur, model tersebut penting karena sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbang 23,82 persen PDRB daerah pada 2025. Penguatan perikanan berarti memperbesar nilai tambah dari salah satu sektor ekonomi utama daerah.
Jika fasilitas, koperasi, produksi dan pasar dapat terhubung, KNMP Simbur Naik berpotensi menjadi simpul ekonomi pesisir baru, bukan hanya tempat nelayan mendaratkan ikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan produksi yang besar tersebut tidak berhenti di tingkat bahan mentah, tetapi berkembang menjadi industri pengolahan dan perdagangan hasil laut bernilai tambah.
- Penulis: say say
