Kerinci Hanya Terima Rp12 Miliar Investasi, Tapi Ekonominya Tetap Tumbuh 4,32 Persen
- account_circle say say
- calendar_month 48 menit yang lalu
- print Cetak

Kerinci menunjukkan bahwa potensi ekonomi tidak selalu terlihat dari besarnya investasi baru. Daerah dengan basis pertanian dan pariwisata dapat menciptakan peluang melalui peningkatan nilai tambah produk lokal dan penguatan rantai konsumsi wisata.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kabupaten Kerinci mencatat realisasi investasi sekitar Rp12 miliar hingga Triwulan II 2026, menjadi yang terendah dalam rekap investasi kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Meski demikian, ekonomi Kerinci tetap tumbuh 4,32 persen secara tahunan (yoy) pada Triwulan I 2026.
Pada periode yang sama, Kerinci menyumbang 4,51 persen terhadap distribusi PDRB Provinsi Jambi. Angka ini menunjukkan bahwa rendahnya investasi baru tidak serta-merta berarti aktivitas ekonomi Kerinci juga rendah.
Karakter ekonomi Kerinci berbeda dengan daerah yang bertumpu pada industri skala besar. Pertanian, perkebunan, pariwisata, perdagangan dan produk berbasis sumber daya lokal menjadi bagian penting dari rantai ekonominya.
Salah satu contoh paling jelas terlihat di Kayu Aro. Pada September 2026, Pemerintah Kabupaten Kerinci menggelar Festival Kopi Kerinci yang mempertemukan petani, pelaku UMKM, barista, komunitas kopi, perbankan dan pelaku ekonomi kreatif. Kegiatan tersebut juga mencakup edukasi, kompetisi, hilirisasi dan coffee experience.
Artinya, kopi tidak berhenti sebagai komoditas pertanian. Rantai bisnisnya dapat berkembang dari petani , pengolahan green bean , roasting , kedai kopi , oleh-oleh, wisata , akomodasi dan jasa transportasi.
Peluang serupa muncul dari pariwisata. Pada 2026, kegiatan Asia MX Bupati Kerinci Cup di kawasan Kayu Aro dilaporkan meningkatkan aktivitas UMKM, kuliner, penginapan dan transportasi lokal selama penyelenggaraan. Ini menunjukkan bagaimana event dapat menciptakan perputaran ekonomi lintas sektor.
Dari sisi harga, Kerinci mencatat inflasi 4,30 persen yoy pada Triwulan II 2026, turun cukup tajam dari 5,11 persen pada Triwulan I. Angka tersebut menjadi indikator penting karena perubahan harga dapat memengaruhi daya beli dan biaya usaha masyarakat.
Kerinci menunjukkan bahwa potensi ekonomi tidak selalu terlihat dari besarnya investasi baru. Daerah dengan basis pertanian dan pariwisata dapat menciptakan peluang melalui peningkatan nilai tambah produk lokal dan penguatan rantai konsumsi wisata.
Karena itu, peluang bisnis di Kerinci dapat dibaca melalui beberapa jalur: hilirisasi kopi dan komoditas pertanian, kuliner, oleh-oleh, homestay, transportasi wisata, ekonomi kreatif, event tourism hingga distribusi produk lokal.
Bagi investor dan UMKM, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya “berapa investasi yang masuk?”, tetapi “berapa besar nilai ekonomi yang masih bisa ditambahkan dari aktivitas yang sudah ada?”
Kerinci memberikan contoh bahwa ketika investasi besar belum dominan, local economy tetap dapat menjadi mesin pertumbuhan melalui komoditas, wisata dan rantai nilai yang dibangun dari potensi daerah sendiri
- Penulis: say say
