Sungai Penuh Tumbuh 4,68 Persen, Kota Kecil yang Jadi Pusat Perdagangan Kerinci
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Pemerintah Kota Sungai Penuh sendiri secara eksplisit menempatkan perdagangan, jasa dan UMKM lokal sebagai bagian dari basis perekonomian kota. Program yang disiapkan mencakup revitalisasi pasar, pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, destinasi wisata dan konsep satu desa satu produk unggulan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kota Sungai Penuh mencatat pertumbuhan ekonomi 4,68 persen secara tahunan (yoy) pada Triwulan I 2026. Kontribusinya terhadap PDRB Provinsi Jambi memang relatif kecil, yakni 3,32 persen, tetapi angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan fungsi ekonomi kota di wilayah Kerinci.
Realisasi investasi Sungai Penuh hingga Triwulan II 2026 mencapai sekitar Rp154 miliar. Bagi pelaku usaha, angka tersebut menarik dibaca bersama karakter Sungai Penuh sebagai kota yang mengandalkan perdagangan, jasa, UMKM dan aktivitas ekonomi berbasis pariwisata.
Pemerintah Kota Sungai Penuh sendiri secara eksplisit menempatkan perdagangan, jasa dan UMKM lokal sebagai bagian dari basis perekonomian kota. Program yang disiapkan mencakup revitalisasi pasar, pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, destinasi wisata dan konsep satu desa satu produk unggulan.
Salah satu contoh konkret adalah pembangunan Pasar Sungai Penuh/Beringin Jaya. Proyek dengan anggaran sekitar Rp55 miliar tersebut dirancang sebagai pasar modern tiga lantai, dengan area parkir dan ruang perdagangan. Pada September 2026, pemerintah kota menargetkan pembangunan selesai pada akhir Oktober.
Bagi pedagang dan UMKM, keberadaan pasar baru berarti peluang pada kuliner, sembako, fesyen, produk lokal, jasa pembayaran, logistik, hingga pemasaran digital.
Di sisi lain, pariwisata membuka pasar tambahan. Pada Juli 2026, Pekan Budaya Pariwisata di Sungai Penuh mempromosikan kuliner, kerajinan, budaya, destinasi wisata dan produk UMKM. Event seperti ini menciptakan permintaan bagi pedagang makanan, penginapan, transportasi, suvenir dan ekonomi kreatif.
Pemerintah juga memperkuat akses pembiayaan UMKM melalui kerja sama TPAKD dengan BNI, BSI, BPR Kerinci, PNM, Bank Jambi, BRI dan Bank Mandiri. Tujuannya memperluas akses keuangan bagi pelaku usaha.
Artinya, pasar Sungai Penuh tidak berhenti di batas kota. Pedagang dapat melayani masyarakat Kerinci, wisatawan, maupun pelaku usaha dari kawasan sekitarnya.
Bagi pembisnis, inilah poin pentingnya: kota kecil belum tentu memiliki pasar kecil. Sungai Penuh menunjukkan bagaimana posisi sebagai pusat perdagangan dan jasa dapat menciptakan permintaan dari wilayah hinterland.
Peluang bisnisnya bukan hanya membuka toko, tetapi membangun rantai usaha dari perdagangan, kuliner, penginapan, transportasi, produk lokal, jasa digital hingga pariwisata.
- Penulis: say say
