Rupiah Makin Perkasa! Ditutup Tembus Rp17.818 per Dolar AS
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 29 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan rupiah dan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah kembali menunjukkan penguatan. Mata uang Indonesia melanjutkan tren positif dan ditutup menguat cukup tajam pada perdagangan Rabu (23/9/2026).
Rupiah ditutup di level Rp17.818 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut menguat 66 poin atau 0,37 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penguatan rupiah juga sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat menguat 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.857 per dolar AS.
Penguatan pada penutupan perdagangan membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang sebelumnya menjadi perhatian pasar.
Menariknya, penguatan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS justru ikut bergerak naik. Indeks dolar AS tercatat menguat 0,2 persen ke level 100,8.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, mengatakan salah satu sentimen yang menopang rupiah berasal dari perkembangan hubungan AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat AS telah menggelar pertemuan selama tiga jam dengan perwakilan Iran di New York.
“Trump menyebut pertemuan tersebut sangat baik dan produktif, sehingga memunculkan harapan negosiasi dapat membantu meredakan konflik dan gangguan di sekitar Selat Hormuz,” ungkap Ibrahim.
Pertemuan tersebut menjadi kontak langsung pertama antara pejabat AS dan Iran sejak Juni. Iran juga mengisyaratkan kesediaan membuka kembali Selat Hormuz apabila Washington melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Namun, belum terdapat kepastian mengenai kesepakatan final.
Ibrahim menambahkan, sentimen positif lainnya datang dari Arab Saudi. Negara tersebut kembali mengoperasikan jalur pipa Timur-Barat yang mampu mengalirkan minyak mentah ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut sebelumnya sempat ditutup setelah serangan drone pada awal bulan ini.
Di sisi lain, Ibrahim mengatakan, pasar masih mencermati arah kebijakan The Fed. Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin mengatakan tekanan inflasi membutuhkan waktu untuk mereda. Dia juga menyebut kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk membawa inflasi menuju target 2%.
Presiden The Fed Boston Susan Collins turut menegaskan bahwa tekanan harga yang tinggi membutuhkan sikap kebijakan yang lebih restriktif untuk mencapai stabilitas harga dalam jangka panjang.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75%, sedangkan Lending Facility sebesar 6,50%.
BI menyatakan keputusan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi. BI juga akan memperkuat kebijakan untuk mendorong aliran modal asing serta memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing.
“Untuk perdagangan Kamis (24/9/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 17.810 – 17.860 per dolar AS,” tutup Ibrahim.(*)
- Penulis: darmanto zebua
