Terasi Kuala Tungkal dan Cerita Bisnis yang Tumbuh dari Bahan Baku Lokal
- account_circle say say
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Foto ilustrasi: Terasi Udang di Kota Kuala Tungkal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Di tengah aktivitas perikanan Kuala Tungkal, sebagian hasil tangkapan nelayan tidak berhenti sebagai komoditas segar. Udang berukuran kecil atau udang rebon diolah menjadi terasi, produk pangan yang telah lama menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Tanjung Jabung Barat.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat Tanjung Jabung Barat sebagai salah satu sentra industri terasi di Provinsi Jambi. Dalam pendataan industri rumah tangga pada 2022, BPS mewawancarai salah satu pembuat terasi, Jamilah, yang telah menjalankan usaha tersebut selama puluhan tahun.
Menurut Jamilah, bahan baku terasi berasal dari udang segar yang diperoleh dari nelayan. Produksinya dilakukan secara tradisional tanpa mesin dan tanpa bahan pengawet. Produk tersebut kemudian dijual secara kiloan sesuai permintaan pelanggan dan dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Kuala Tungkal.
Penelitian mengenai usaha terasi di Sentra Pengolahan Terasi Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal menemukan bahwa bahan baku utama yang digunakan adalah udang rebon berukuran kecil.
Baca juga : Dari Udang ke Terasi, Begini Rantai Bisnis Lokal di Kuala Tungkal
Dalam penelitian tersebut, pengusaha memperoleh udang rebon dari kawasan Parit 4 dan Parit 5, yang merupakan wilayah perkampungan nelayan di Kuala Tungkal. Udang dibeli dalam kondisi basah karena harganya lebih rendah dibandingkan udang yang sudah dikeringkan. Penelitian yang dilakukan pada 2017 mencatat harga bahan baku saat itu sekitar Rp5.000 per kilogram.
Jumlah udang yang tersedia sangat dipengaruhi musim dan cuaca. Saat musim udang, pengusaha dalam penelitian tersebut dapat memperoleh hingga sekitar satu ton bahan baku. Ketika bukan musimnya, pasokan dapat turun menjadi sekitar 30-50 kilogram. Dalam kondisi tertentu, pengusaha bahkan harus mencari pasokan dari Kuala Enok.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan lokasi sekaligus menjadi tantangan bisnis. Produsen berada dekat dengan sumber bahan baku, tetapi tetap bergantung pada kondisi laut dan hasil tangkapan nelayan.
Berdasarkan penelitian lapangan di sentra pengolahan Kuala Tungkal, udang terlebih dahulu dibeli dan dicuci. Setelah itu, udang dicampur dengan garam dengan perbandingan sekitar 5:1, kemudian diperam selama dua hari dua malam di dalam karung.
Setelah proses pemeraman, bahan dijemur sampai kering. Udang kemudian digiling sebanyak dua kali hingga halus, dicetak, lalu kembali dijemur sampai menjadi produk terasi.
BPS mencatat Jamilah menghadapi kendala cuaca karena kondisi mendung membuat udang lebih lambat kering. Ketika pasokan udang terbatas atau proses pengeringan terganggu, kapasitas produksi ikut terdampak.
Mbah Rokayah, pemilik usaha Sumber Rejeki Laut, pernah diwawancarai mengenai perjalanan usahanya yang dimulai sejak 1982. Dalam wawancara tersebut, Rokayah mengatakan bahan bakunya diperoleh dari nelayan lokal.
Usahanya yang pada awalnya dikerjakan secara manual kemudian berkembang menggunakan mesin penggiling dan kemasan berlabel. Produk terasinya dipasarkan di Tanjung Jabung Barat, Kota Jambi, Batam dan Jakarta. Bahkan, ia menyebut produknya pernah dipasarkan hingga Malaysia.
Penelitian akademik mengenai usaha Sumber Rezeki Laut juga menemukan beberapa jalur pemasaran, yaitu produsen kepada pedagang pengumpul, pengumpul kepada konsumen lokal, produsen langsung kepada konsumen lokal, serta produsen langsung kepada konsumen luar daerah.
Artinya, rantai bisnis terasi tidak berhenti di dapur produksi. Ada nelayan sebagai pemasok, pengolah sebagai produsen, pedagang pengumpul, pengecer, hingga konsumen di luar daerah.
Besarnya keuntungan tentu berbeda antarprodusen dan tidak bisa menggunakan angka lama sebagai gambaran pasti kondisi 2026.
Namun, penelitian terhadap kelompok usaha Sumber Rezeki Laut yang dilakukan pada 2017 mencatat pendapatan kotor sekitar Rp60 juta per siklus bulanan dan pendapatan bersih sekitar Rp23,22 juta per bulan, dengan rasio penerimaan terhadap biaya atau RCR sebesar 1,6. Nilai investasi yang dihitung dalam penelitian tersebut sekitar Rp95,74 juta.
Sementara itu, laporan wawancara dengan Mbah Rokayah pada 2021 menyebut produksi dapat mencapai 100 kilogram terasi per hari, dengan lima jenis produk dan harga sekitar Rp7.000-Rp20.000 per bungkus pada saat itu. Laporan yang sama menyebut omzet bulanannya sekitar Rp1 juta-Rp2 juta, sehingga angka produksi dan omzet tersebut sebaiknya dibaca sebagai pernyataan pelaku pada periode tersebut, bukan sebagai standar keuntungan usaha terasi saat ini.
Perbedaan angka tersebut justru menunjukkan satu hal: skala usaha, kapasitas produksi, harga jual, biaya bahan baku dan jalur pemasaran sangat menentukan margin.
- Penulis: say say
