Belum Ada Emiten Asal Jambi, Tapi Investor Daerah Ini Kuasai Saham Sejumlah Perusahaan Terbuka
- account_circle say say
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Bursa Efek Indonesia (BEI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Provinsi Jambi hingga kini belum memiliki perusahaan lokal yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO). Meski demikian, nama Jambi mulai mencuri perhatian di pasar modal nasional berkat aktivitas salah satu investornya yang tercatat sebagai pemegang saham signifikan di sejumlah perusahaan terbuka.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, belum ada perusahaan yang berkantor pusat di Provinsi Jambi yang resmi berstatus emiten, yakni perusahaan yang telah menawarkan sahamnya kepada publik dan tercatat di BEI. Kondisi tersebut membuat Jambi masih tertinggal dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sumatera yang telah memiliki perusahaan publik.
Di tengah belum lahirnya emiten asal Jambi, sosok Djoni, pengusaha dan investor yang berasal dari Jambi, justru menjadi sorotan pelaku pasar modal. Namanya beberapa kali muncul dalam keterbukaan informasi setelah kepemilikannya di sejumlah emiten melampaui batas 5 persen, sehingga wajib dilaporkan kepada Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Terbaru, Djoni tercatat menguasai sekitar 201 juta lembar saham PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) atau setara 5,09 persen. Perubahan kepemilikan tersebut efektif sejak 9 Januari 2026 berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan keterbukaan informasi perseroan.
Sebelum masuk ke FOLK, Djoni juga diketahui pernah menjadi pemegang saham signifikan di sejumlah emiten lain, seperti PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), serta PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE). Strategi investasinya yang cenderung masuk pada perusahaan yang sedang melakukan transformasi bisnis membuat namanya cukup dikenal di kalangan pelaku pasar.
Apa Itu Emiten?
Dalam dunia pasar modal, emiten adalah perusahaan yang telah menjual saham atau obligasi kepada masyarakat melalui penawaran umum dan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia. Setelah berstatus emiten, perusahaan wajib menyampaikan laporan keuangan, aksi korporasi, dan berbagai informasi penting kepada publik sesuai ketentuan OJK dan BEI.
Contoh emiten yang sudah dikenal masyarakat antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
Sebaliknya, orang yang membeli saham perusahaan-perusahaan tersebut disebut investor, bukan emiten. Sebenarnya Jambi memiliki potensi besar untuk melahirkan emiten baru. Daerah ini memiliki perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, pertambangan, perdagangan, logistik, hingga industri pengolahan yang berpeluang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan ekspansi.
Bursa Efek Indonesia melalui Kantor Perwakilan Jambi selama ini terus mendorong perusahaan daerah agar meningkatkan tata kelola dan mempersiapkan diri menuju IPO. Kehadiran emiten asal Jambi dinilai tidak hanya memperkuat perekonomian daerah, tetapi juga membuka akses pendanaan yang lebih luas bagi dunia usaha.
IPO (Initial Public Offering) adalah penawaran umum perdana saham, yaitu proses ketika sebuah perusahaan untuk pertama kalinya menjual sahamnya kepada masyarakat dan kemudian resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah IPO, perusahaan tersebut berstatus sebagai emiten.
Bayangkan sebuah perusahaan awalnya hanya dimiliki oleh pendiri dan beberapa investor. Ketika perusahaan membutuhkan modal untuk berkembang, misalnya membangun pabrik baru atau memperluas bisnis, perusahaan dapat menjual sebagian kepemilikannya kepada publik melalui IPO.
Masyarakat kemudian dapat membeli saham perusahaan tersebut melalui perusahaan sekuritas. Setelah IPO selesai, saham perusahaan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Tujuan perusahaan melakukan IPO
- Menghimpun modal guna ekspansi usaha.
- Membayar atau mengurangi utang.
- Meningkatkan kredibilitas dan citra perusahaan.
- Memperluas basis pemegang saham.
- Memudahkan akses pendanaan di masa depan.
- Penulis: say say

