Nahkoda Baru BEI! Jeffrey Hendrik Jadi Dirut
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

BERSAMA: RUPST BEI resmi menetapkan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama BEI untuk masa jabatan 2026-2030.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi berganti nakhoda. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menetapkan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama BEI untuk masa jabatan 2026–2030.
Pergantian kepemimpinan ini diharapkan menjadi motor baru dalam mempercepat transformasi pasar modal Indonesia agar semakin modern, inklusif, dan mampu bersaing di tingkat global.
Pengangkatan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama telah memperoleh restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Persetujuan tersebut tertuang dalam Surat Nomor SR-10/D.04/2026, sehingga kepemimpinannya sah untuk menjalankan roda organisasi BEI selama empat tahun ke depan.
Selain menetapkan jajaran direksi baru, RUPST juga mengesahkan laporan tahunan dan laporan keuangan tahun buku 2025. Pemegang saham turut menyetujui penunjukan Kantor Akuntan Publik Purwanto, Susanti dan Surja (member of Ernst & Young Global Limited) sebagai auditor independen untuk tahun buku 2026.
Tak hanya itu, rapat juga menetapkan remunerasi bagi direksi dan komisaris untuk periode kepengurusan yang baru.
RUPST yang digelar secara hybrid pada Senin (29/6/2026) dihadiri oleh seluruh pemegang saham yang memiliki hak suara.
Adapun susunan Direksi BEI periode 2026-2030 adalah sebagai berikut:
Direktur Utama: Jeffrey Hendrik
Direktur Penilaian Perusahaan: Saidu Solihin
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa: Irvan Susandy
Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan: Yulianto Aji Sadono
Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko: Abdul Munim
Direktur Pengembangan: Iding Pardi
Direktur Keuangan, SDM, dan Umum: Umi Kulsum
Melalui kepemimpinan baru tersebut, BEI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat integritas pasar, meningkatkan daya saing, sekaligus mempercepat transformasi digital guna mendukung pertumbuhan pasar modal Indonesia.
Dalam RUPST, Jeffrey memaparkan capaian kinerja BEI sepanjang 2025 yang mencatatkan berbagai rekor baru meski pasar sempat menghadapi tekanan akibat gejolak global.
Pada paruh pertama 2025, pasar modal domestik tertekan oleh meningkatnya tensi perang dagang menyusul kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian geopolitik.
“Kondisi tersebut sempat mendorong IHSG turun ke level 5.996 pada awal April 2025 sehingga BEI memberlakukan trading halt,” paparnya.
Untuk menjaga stabilitas pasar, BEI bersama OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) menerapkan sejumlah kebijakan, mulai dari penyesuaian ketentuan buyback saham tanpa persetujuan RUPS, perubahan batas Auto Rejection Bawah (ARB), hingga penyempurnaan mekanisme trading halt.
Memasuki semester II-2025, kondisi pasar berangsur pulih didukung membaiknya sentimen global dan kebijakan ekonomi domestik. IHSG bahkan mencatatkan 24 kali rekor tertinggi (all time high) dengan level puncak 8.711, sementara kapitalisasi pasar mencapai rekor Rp 16.004 triliun pada 8 Desember 2025.
Aktivitas perdagangan juga meningkat signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp 18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham mencapai Rp 7,6 triliun.
Di pasar obligasi melalui Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), total volume transaksi mencapai Rp 1.375 triliun. Sementara itu, nilai perdagangan karbon melalui IDXCarbon tercatat sebesar Rp 36,37 miliar.
Dari sisi penghimpunan dana, sepanjang 2025 terdapat 26 perusahaan yang melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan total kapitalisasi pasar Rp 155,2 triliun saat pencatatan.
Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai sekitar Rp 18,1 triliun atau meningkat 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontributor terbesar berasal dari sektor basic materials, diikuti sektor keuangan dan infrastruktur.
Selain IPO, penghimpunan dana melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) mencapai Rp 217,4 triliun, sedangkan melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan waran mencapai Rp 43,7 triliun.
BEI juga terus memperluas basis investor melalui penguatan edukasi dan digitalisasi. Hingga akhir 2025, jumlah Galeri Investasi bertambah menjadi 1.015 lokasi dengan lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi yang telah diselenggarakan.
Jumlah pengguna aplikasi IDX Mobile meningkat menjadi 463 ribu, sedangkan jumlah investor pasar modal melonjak menjadi 20,3 juta atau tumbuh hampir 37% dibandingkan tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, sejalan dengan meningkatnya aktivitas pasar modal, BEI membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp3,66 triliun pada 2025 atau naik 29,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan pendapatan jasa transaksi efek sebesar 41% dan jasa kliring sebesar 41,3%, seiring meningkatnya rata-rata nilai transaksi harian.
Di samping itu, diversifikasi bisnis melalui jasa informasi, pendapatan investasi, serta kontribusi anak usaha turut mendorong pendapatan non-transaksi meningkat 14,6%, sedangkan pendapatan lainnya tumbuh 17%.
Meski beban usaha naik 17,1% menjadi Rp 2,37 triliun, terutama akibat meningkatnya kontribusi tahunan kepada OJK, BEI tetap berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,07 triliun atau melonjak 59,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi laba bersih tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia.
Sementara itu, total aset BEI meningkat 32% menjadi Rp 14,78 triliun dan ekuitas tumbuh 14% menjadi Rp 9,45 triliun, mencerminkan fundamental keuangan perseroan yang semakin kuat.
Laporan keuangan konsolidasian BEI untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025 telah memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Kantor Akuntan Publik Purwanto, Susanti dan Surja.
Dengan kepemimpinan baru di bawah Jeffrey Hendrik, BEI menargetkan dapat melanjutkan momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat posisi pasar modal Indonesia di tingkat regional maupun global.(*)
- Penulis: say say
- Editor: Darmanto Zebua
