Rupiah Menguat 31 Poin Hari Ini, Dolar AS Masih di Atas Rp18.000
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Rupiah bangkit kembali terhadap dolar AS hari ini.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Tekanan terhadap rupiah mulai mereda pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10/2026). Mata uang Indonesia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski posisinya masih bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah dibuka menguat 31 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp18.015 per dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.046 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS justru bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Tercatat, indeks dolar AS turun 0,06 persen ke level 101,914.
Merujuk data Refinitiv, sebagian besar mata uang Asia bergerak di zona hijau terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Enam dari 10 mata uang Asia yang dipantau menguat terhadap dolar AS, sedangkan empat lainnya melemah.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini. Won naik 0,38% ke posisi KRW1.327,03/US$.
Rupiah juga mampu berbalik menguat. Mata uang Indonesia terapresiasi 0,15% ke posisi Rp18.003/US$, setelah pada perdagangan sebelumnya masih berada di zona merah.
Dolar Singapura naik 0,05%, disusul dong Vietnam yang menguat 0,04% dan yuan China sebesar 0,03%. Yen Jepang juga naik tipis 0,01%.
Di sisi lain, dolar Taiwan mengalami tekanan paling dalam dengan pelemahan 0,24%. Peso Filipina menyusul dengan penurunan 0,11%. Sementara baht Thailand dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,03% dan 0,01%.
Dikutip dari Reuter, Kepala riset Pepperstone Group Chris Weston mengungkapkan pergerakan dolar pagi ini ikut dipengaruhi oleh membaiknya selera investor terhadap aset berisiko. Kondisi tersebut membuat sejumlah mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi kembali mendapat permintaan.
“Pasar valuta mencerminkan membaiknya selera risiko, dengan mata uang berimbal hasil lebih tinggi kembali diburu,” ujar Chris Weston.
Meski demikian, dolar AS masih bertahan di atas level 101. Pasar global juga belum sepenuhnya tenang karena ketidakpastian politik di Eropa, terutama Prancis, masih menjadi perhatian.
Kondisi tersebut ikut memberikan tekanan terhadap pasar obligasi Prancis. Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun dengan obligasi Jerman melebar 9,9 basis poin menjadi 147,3 basis poin pada Senin.
“Risiko obligasi pemerintah Prancis jelas mulai diperhitungkan di pasar saham Eropa, tetapi ketahanan euro menunjukkan pelaku pasar belum melihatnya sebagai masalah sistemik bagi Eropa,” kata Weston.
Di pasar obligasi AS, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun relatif stabil di sekitar 5,131%.
Sementara itu, yuan China turut menguat tipis setelah People’s Bank of China (PBoC) mempertahankan suku bunga acuannya, sesuai dengan perkiraan pasar.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
