Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Makin Perkasa
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan dolar AS dan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Tekanan terhadap rupiah belum hilang. Mata uang Indonesia kembali tidak berdaya menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (15/9/2026).
Mengutip Antara, rupiah dibuka di level Rp17.670 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.669 per dolar AS.
Pelemahan memang terbilang tipis. Namun, pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan dolar AS yang kembali menguat.
Disisi lain, indeks dolar AS terpantau menguat 0,20 persen ke posisi 99,588.
Penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu sentimen yang ikut membebani pergerakan rupiah. Kondisi ini membuat ruang penguatan mata uang Indonesia masih terbatas.
Pergerakan rupiah hari ini turut diwarnai perkembangan dari dalam negeri setelah Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026).
Usai dilantik, Suahasil mengatakan fokus utamanya adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar tetap mampu membiayai program prioritas pemerintah.
Menurut Suahasil, APBN juga harus dapat mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas perekonomian nasional.
“Arahan khusus dari Bapak Presiden adalah untuk menjaga keuangan negara. Artinya menjaga kesehatannya, menjaga kredibilitas dari keuangan negara tersebut,” ujar Suahasil.
“Jadi APBN sebagai bagian dari keuangan negara harus bisa menjalankan program-program prioritas pemerintah, karena itu APBN-nya itu harus sehat. Selain APBN-nya harus sehat, dia juga harus kredibel. APBN itu harus dapat dipercaya,” lanjutnya.
Di tengah kabar tersebut, penguatan indeks dolar AS di pasar global masih mempersempit ruang penguatan bagi rupiah.
Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin. Konflik di Timur Tengah yang terus berlangsung mendorong harga minyak naik dan membuat investor kembali mencari aset aman.
Selain itu, pasar juga bersiap menghadapi keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada FOMC 15-16 September pekan ini. Peluang kenaikan suku bunga meningkat setelah harga energi yang tinggi kembali memperbesar tekanan inflasi AS.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 90 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Probabilitas tersebut meningkat tajam dari sekitar 60 persen pada pekan lalu.
Ekspektasi kenaikan suku bunga turut memperkuat dolar karena aset berdenominasi mata uang AS menjadi lebih menarik. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
